London - Anak muda dan media sosial (medsos), dua hal yang saling terhubung dan tak bisa dilepaskan. Sebab lewat medsos, anak muda bisa terhubung dengan dunia luar dan menunjukkan eksistensinya.

Tapi sebuah studi mengungkap hal yang mengejutkan. Lebih dari 11 juta remaja meninggalkan Facebook antara tahun 2011 dan 2014. Ada pula berpendapat kalau banyak anak muda meninggalkan platform publik seperti Twitter dan Instagram beralih ke aplikasi perpesanan yang lebih pribadi seperti WhatsApp dan Snapchat.

Menguatkan hasil studi itu, laman  The Guardian coba membuat riset kepada pembacanya soal kenapa keluar dari medsos dan platform apa yang mereka tinggalkan. Hasilnya tak kalah mengagetkan, mayoritas merasa bahagia lepas dari medsos.

Seperti diutarakan Daisy. Gadis 23 tahun asal Manchester ini mengaku meninggalkan Facebook awalnya agar bisa move-on setelah putus dari pacarnya. Niatan awal sih hanya sementara waktu, tapi akhirnya terus sampai sekarang.

"Facebook membuat saya merasa cemas, tertekan, dan seperti orang gagal. Saya merasa semua orang menjalani mimpinya, sementara  saya masih di rumah bersama orang tua saya, dengan hutang dari pinjaman pelajar saya menggantung di atas saya," kata Daisy.

"Saya juga merasa bahwa jika saya tidak menandai diri saya sendiri di restoran atau mengunggah foto saat  hangout, orang akan menganggap saya tidak hidup. Saya mencoba menampilkan diri saya sebagai seorang yang selalu bersenang-senang. Jika status saya tidak mendapatkan lebih dari lima like, saya akan menghapusnya," lanjutnya.

Daisy merasa berubah menjadi lebih baik setelah menghapus akun Facebooknya. Sekarang dia senang dapat mengobrol dengan teman-temannya secara langsung.

Beberapa temannya menganjurkan untuk kembali ke Facebook, tapi ditolaknya. Satu-satunya medsos yang masih diikutinya adalah Instagram, itupun karena dirinya mengikuti akun yang menampilkan quote sarkastik.

Cerita yang hampir mirip diceritakan Ben. Pemuda 21 asal Surrey ini awalnya membuat resolusi awal tahun yang salah satunya mengurangi waktu bermain medsos. 

Setelah itu dijalani, terbesit sebuah pertanyaan dalam pikirannya, mengapa dirinya menggunakan medsos. Dari sana dia memutuskan untuk keluar sepanjang setahun ini.

"Saya keluar dari Snapchat pada November dan Facebook pada Juni. Saya tidak pernah benar-benar memiliki WhatsApp atau Twitter. Saya terutama menggunakan Facebook di universitas, untuk mengatur acara dan pertemuan, tetapi secara bertahap saya mulai menyadari betapa merasa tidak nyaman dengan jumlah waktu yang biasa saya habiskan untuk itu," ujar Ben.

"Selalu menemukan media sosial sebagai lingkungan di mana orang terus-menerus mencari perhatian dan validasi melalui komentar orang-orang, dan membual tentang suka dan retweet," imbuhnya.

Menurutnya selama ribuan tahun lalu manusia tidak membutuhkan medsos tapi sekarang banyak orang berpikir hidupnya akan berakhir jika  tidak mengakses medsos. Ben melihat perubahan medsos selama beberapa tahun belakang. Saat ini lebih banyak menampilkan iklan.

"Saya tidak merasa sulit untuk berhenti dan, setelah beberapa saat, menghubungi orang melalui cara lain menjadi hal yang biasa. Orang-orang sangat menghormati saya yang tidak ada di medsos, dan beberapa berharap mereka bisa melakukannya juga," kata Ben.

"Saya kini lebih produktif dan tidak terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang saya. Sekarang saya memiliki pola pikir yang jauh lebih positif tanpa medsos daripada sebelumnya. Ini memungkinkan saya melihat siapa sebenarnya teman-teman saya, dan dengan siapa yang hanya peduli di media sosial. Sekarang saya menggunakan ponsel fitur dan email dasar sebagai satu-satunya bentuk komunikasi saya, dan orang-orang telah menyesuaikannya," pungkasnya.

Kalau kamu sendiri bagaimana, Urbanreaders? 

Komentar
paper plane