Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Sejarah dan Makna 'No Bra Day' yang Diperingati Tiap 13 Oktober

Okke Oscar,
13 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Sejarah dan Makna 'No Bra Day' yang Diperingati Tiap 13 Oktober
Image: Ilustrasi bra. Sumber: Pixabay/Foundry

Jakarta - No Bra Day diperingati setiap tanggal 13 Oktober dan bertujuan untuk merayakan para survivor kanker payudara sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak memakai bra pada hari itu sebagai bentuk solidaritas.

Sebelumnya, peringatan No Bra Day sebelumnya dirayakan pada 9 Juli setiap tahun sejak 2011, tetapi dipindahkan ke tanggal 13 Oktober di Bulan Kesadaran Kanker Payudara Nasional.

Peringatan ini dulu dikenal sebagai "BRA Day" yang diinisiasi oleh ahli bedah plastik Kanada, Dr. Mitchell Brown.

Dr. Brown ingin mendorong para penyintas kanker payudara untuk mempertimbangkan melakukan operasi rekonstruktif.

Ia mendirikan Hari Kesadaran Rekonstruksi Payudara (BRA) di Women's College Hospital dan Toronto General Hospital.

Selain itu, acara BRA day dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran akan pencegahan dengan sadari sedari dini kanker payudara, mengingatkan wanita akan gejala kanker payudara, dan mendorong wanita untuk melakukan pemeriksaan diri secara teratur.

Acara ini diadopsi di AS dan menjadi hari libur yang dikenal sebagai Hari Tanpa Bra dimulai pada tahun 2012.

Lantas, bagaimana orang-orang merayakannya?

Tagar media sosial #NoBraDay muncul kembali setiap 13 Oktober dan para wanita membagikan foto mereka tanpa bra di seluruh platform sosial.

Mengutip The Suns, ada lebih dari 82.000 wanita memposting dukungan mereka di Twitter dan Instagram pada tahun 2017.

Beberapa penyintas kanker payudara juga mengambil kesempatan untuk memposting foto mastektomi atau bekas operasi pengangkatan payudara mereka untuk mengajak orang lain berdonasi ke yayasan penelitian kanker payudara.

Sebagai konteks tambahan, di Indonesia sendiri kanker payudara menjadi kanker 'pembunuh' terganas nomor 1.

Menurut data Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari World Health Organization (WHO), total kasus kanker di Indonesia mencapai 396.914 kasus dan total kematian sebesar 234.511 kasus pada 2020. Kanker payudara memiliki jumlah kasus baru tertinggi di Indonesia sebesar 65.858 kasus atau 16,6% dari total 396.914 kasus kanker.

Menurut Yayasan Kanker Indonesia (YKI), salah satu penyebab tingginya kasus kanker di Indonesia adalah kondisi lingkungan yang terus menghasilkan bahan karsinogen, seperti rokok, daging olahan, dsb. Penyebab lain yang juga mempengaruhi seperti kebiasaan begadang, kurang olahraga, dan makan terlalu banyak.  
 
 
 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait