menu
user
URstyle

Sejarah Eiger: Dari 2 Mesin Jahit, Kini Punya 250 Store

Anisa Kurniasih,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Sejarah Eiger: Dari 2 Mesin Jahit, Kini Punya 250 Store
Image: Proses produksi produk Eiger di PT Eksonindo Multi Product Industry (Anisa/Urbanasia)

Jakarta - Siapa yang tak kenal Eiger? Merek asli Indonesia ini pastinya sudah melekat bagi para pendaki dan juga pecinta kegiatan outdoor. 

Memiliki gerai yang sudah tersebar di berbagai wilayah, siapa sangka Eiger memiliki sejarah panjang hingga akhirnya mampu bertahan sampai sekarang.

Di balik nama besar Eiger, ada nama Ronny Lukito yang merupakan pendiri Eiger sejak 1989. Pria tersebut rupanya hanya lulusan sekolah STM yang gigih menuangkan kreativitasnya hingga akhirnya sukses seperti sekarang.

Namun, butuh perjalanan panjang yang harus dilalui Ronny. Hal tersebut bermula dari produk tas yang dibuat dirinya dengan nama Butterfly yang diambil dari merek mesin jahit buatan China miliknya saat itu.

Saat masih merintis usahanya yang dimulai pada tahun 1979, Ronny hanya memiliki dua mesin jahit yang ia gunakan untuk membuat tas dengan peralatan dan bahan baku terbatas.

Nama Butterfly pun kemudian ia ubah menjadi Exxon. Namun, sangat disayangkan nama tersebut digugat oleh perusahaan Exxon Oil dari Amerika Serikat. Nama itupun akhirnya diubah lagi menjadi Exsport (Exxon Sporty). 

Kemudian, tak lama lahirlah merek lain yakni Eiger pada tahun 1989 dengan memperkenalkan produk perlengkapan alam terbuka atau outdoor. Nah FYI, nama tersebut diambil dari Gunung Eiger berketinggian 3.970 mdpl di Bernese Alps, Swiss.

1615819592-EIGER-1.jpegSumber: Pengenalan produk Eiger kepada awak media di kantor Eigerindo Multi Produk Industri, Bandung (Anisa/Urbanasia)

Sebagai brand lokal yang sukses memikat hati para penggunanya, Eiger juga kerap mendukung para pecinta alam melalui kegiatan-kegiatannya yang berkaitan dengan lingkungan dan alam.

Nah, kisah perjalanan brand Eiger yang penuh lika-liku tersebut diceritakan dalam kunjungan media ke kantor dan pabrik Eiger di kawasan Kopo, Kota Bandung. 

Berkat kegigihannya, Eiger pun berkembang hingga memiliki pabrik seluas 2,6 hektar yang memproduksi beragam produk mulai dari tas, jaket dan aparrel lainnya.

Dalam acara tersebut, Christian Hartanto Sarsono, Deputy CEO PT Eigerindo Multi Produk Industri mengatakan, Eiger juga memiliki target yang tak hanya sekadar untuk keuntungan semata namun juga bisa bermanfaat untuk konsumen, lingkungan dan juga bangsa Indonesia.

“Kami memiliki target untuk tiga tahun ke depan di antaranya sustainable and smart product, jadi kami memang sedang terus berusaha menciptakan produk yang berkelanjutan namun berproses untuk meminimalisir dampak sampah lingkungan,” ujar Christian kepada awak media di Bandung, Senin (15/3/2021).

Langkah Eiger untuk mewujudkan target tersebut adalah dengan tidak menggunakan kantong belanja plastik, mewajibkan karyawannya menggunakan botol minum yang bisa dipakai berulang, mendaur ulang plastik menjadi produk-produk Eiger dan juga penanaman pohon.

Selain itu, Eiger juga terus mengembangkan konsep pembelanjaan integrasi online dan offline agar mempermudah konsumennya untuk mendapatkan produk yang diinginkan.

“Ke depannya kami tidak ingin memperbanyak toko tapi justru menambah flagship store experience agar customer juga merasakan pengalaman yang berbeda ketika membeli produk kami (Eiger),” tutupnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait