menu
user
URstyle

Sejauh Mata Memandang Ajak Selamatkan Bumi dari Limbah Fashion Lewat Pameran

Anisa Kurniasih,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Sejauh Mata Memandang Ajak Selamatkan Bumi dari Limbah Fashion Lewat Pameran
Image: Pameran fashion ‘Sayang Sandang, Sayang Alam’ (Sejauh Mata Memandang)

Jakarta – Limbah fashion masih menjadi masalah terhadap kelestarian lingkungan. Hal itu dikarenakan pasar untuk industri fashion terus berkembang dan dinamis serta dipengaruhi oleh pergerakan tren yang sangat cepat.

Fakta secara global, industri fast fashion juga memberikan pilihan kepada konsumen untuk dapat membeli lebih banyak pakaian dengan harga yang terjangkau sehingga mengakibatkan akumulasi limbah fesyen terus meningkat. 

Hal ini juga ditambah dengan penggunaan serat sintetis seperti poliester yang merupakan serat plastik dan tidak dapat terurai secara hayati. Bahkan membutuhkan waktu hingga 200 tahun untuk dapat terurai. Terlebih lagi, sekitar 85% dari sampah tekstil dibuang ke tempat sampah dan laut.

 Hal tersebut menggerakan Sejauh Mata Memandang (SMM) sebagai merek fashion dan agen perubahan berkomitmen untuk menjadi label yang lebih bertanggung jawab. 

Oleh karena itu, untuk meningkatkan kesadaran konsumen, SMM yang disponsori oleh TACO dan Ashta District 8 menggelar pameran yang bercerita tentang darurat sampah tekstil dengan tajuk ‘Sayang Sandang, Sayang Alam’. 

Pameran tersebut berlokasi di Ashta District 8, SCBD, Jakarta Selatan yang berlangsung dari 6 Maret – 6 April 2021. 

 Melalui pameran ini, Sejauh Mata Memandang juga menghadirkan beberapa solusi untuk dapat berkontribusi dalam menyelamatkan bumi dari limbah fashion. 

Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kesadaran akan kerusakan lingkungan yang telah terjadi, memilih serat alami untuk tekstil, berbelanja lebih sedikit, membeli kualitas yang baik sehingga tahan lama, dan membeli produk dengan konsep daur ulang.

1615292557-Sejauh-Mata-Memandang-2.jpeg

Sumber: Pameran fashion ‘Sayang Sandang, Sayang Alam’ (Sejauh Mata Memandang)

Chitra Subyakto, Pendiri dan Direktur Kreatif SMM menjelaskan, fakta menunjukan bahwa fashion merupakan salah satu penyumbang polutan sampah terbesar. 

95 persen sampah tekstil yang terbuang sebenarnya masih bisa didaur ulang (recycle) atau didayagunakan kembali menjadi benda berfungsi lain (upcycle). 

“Sebagai merek fesyen dengan konsep slow fashion, salah satu cara kami mengurangi sampah tekstil, adalah dengan menciptakan sandang dari bahan yang dapat terurai, memanfaatkan sisa kain produksi, melakukan program daur ulang dan modifikasi nilai guna dari kain. Komitmen ini merupakan langkah nyata kami untuk mengajak konsumen membantu menyelamatkan lingkungan kita,” ujar Chitra dalam konferensi pers virtual, Selasa (9/3/2021).

Selama pameran berlangsung, SMM juga mengajak masyarakat mendonasikan pakaian untuk didaur ulang dengan cara pakaian yang sudah tidak digunakan bisa dikirimkan ke kotak peduli sampah tekstil selama pameran berlangsung. 

Pakaian yang sudah tidak layak pakai akan didaur ulang menjadi benang dan kemudian menjadi kain baru dimana gerakan ini SMM bekerja sama dengan Pable Indonesia. 

Bekerja sama dengan beberapa gerakan, SMM juga mengolah pakaian yang masih layak pakai untuk dipilah dan didayagunakan kembali atau disumbangkan bagi yang membutuhkan, distribusi pakaian tersebut SMM didukung oleh Wardah dan Syah Establishment.

Pameran ini terdiri dari beberapa area antara lain area fakta mengenai sampah tekstil, video informative dan visual hasil kolaborasi dengan Greenpeace, Davy Linggar, Dian Sastrowardoyo, Tulus, Gustika Hatta, dan Mesty Artiariotedjo. 

Tersedia juga area kotak penyaluran (dropbox) sampah tekstil. Terdapat juga Kios Sejauh menjual produk-produk daur ulang dari sisa bahan produksi dan pakaian bekas. Produk-produk daur ulang SMM cukup beragam seperti; selop, tas serba guna & kondangan, aneka bantal, masker kain, topi, dan koleksi pakaian daur.

Dengan mengutamakan protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, membatasi interaksi, dan menjaga kebersihan tangan pengunjung diberikan berbagai edukasi dan informasi terkait fakta mengenai sampah tekstil. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait