menu
user
URstyle

Simak! Ini Gejala saat Tubuh Terkena Varian Baru Virus Corona

Shelly Lisdya,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Simak! Ini Gejala saat Tubuh Terkena Varian Baru Virus Corona
Image: Ilustrasi mutasi virus. (Freepik/kjpargeter)

Jakarta - Pasien yang didiagnosis dengan varian baru virus corona cenderung menunjukkan tanda-tanda gejala baru, dibandingkan dengan gejala virus asli. 

Sebuah survei yang dilakukan oleh Kantor Statistik Nasional di Inggris menemukan, bahwa mereka yang dites positif cenderung mengalami batuk terus menerus, kelelahan, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan demam.

Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) pun merilis gejala varian baru, yakni kelelahan (32 persen orang dengan varian Inggris), nyeri otot (25 persen), demam (21 persen) atau sakit tenggorokan (21 persen). Tingkat gejala ini mirip dengan tingkat yang terlihat pada jenis lain. 

Hanya saja, pasien yang terinfeksi varian baru, tidak merasakan hilangnya indra perasa atau penciuman. Hanya satu dari 15 persen orang dengan strain Inggris yang melaporkan gejala ini.

Spesialis penyakit menular di Duke Human Vaccine Institute di Duke University Medical Center, Tony Moody mengatakan jika varian baru menyebabkan gejala yang agak berbeda. 

"Varian baru memiliki perubahan dalam kode genetiknya yang akan menghasilkan protein yang dibangun secara berbeda, dan itu dapat mengubah cara virus berinteraksi dengan tubuh," katanya seperti dikutip dari laman AARP, Senin (8/3/2021).

Namun, dia mencatat bahwa perbedaan yang ditemukan dalam survei di Inggris cukup 'halus', dan masih terlalu dini untuk mengetahui apakah mereka menunjukkan sesuatu yang signifikan. 

"Jika tiba-tiba gejala baru muncul atau gejala lain hilang, mungkin itu akan menjadi sesuatu yang lebih memprihatinkan," katanya. 

Gejala varian yang paling umum pada mutasi corona asal Inggris atau yang dikenal sebagai B.1.1.7, pertama kali terdeteksi pada bulan September dan sejak itu menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. 

Varian ini tersebar di 28 negara bagian AS. Studi menunjukkan 40 hingga 70 persen lebih dapat ditularkan daripada jenis virus korona asli.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan jika varian ini pun bisa menjadi strain dominan di AS pada Maret.

Selain varian Inggris, para ilmuwan melacak strain yang ditemukan di Afrika Selatan dan Brasil. Menurut CDC, yang diidentifikasi di Afrika Selatan dikenal sebagai B.1.351. Dan ditemukan di AS untuk pertama kalinya pada 28 Januari, ketika pejabat kesehatan mengumumkan dua kasus di Carolina Selatan. 

Para pasien tidak memiliki riwayat perjalanan atau kontak satu sama lain. Varian Afrika Selatan mengandung mutasi yang memungkinkan virus menghindari beberapa antibodi yang diproduksi melalui vaksin.

Studi awal menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 saat ini mungkin kurang efektif melawan jenis itu, meskipun masih memberikan perlindungan.

Pembuat vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech pun telah mengumumkan bahwa mereka sedang bekerja untuk memodifikasi vaksin mereka dan mungkin untuk membuat suntikan penguat, guna lebih melindungi dari varian Afrika Selatan. 

Strain yang pertama kali diidentifikasi di Brasil hanya ditemukan di satu kasus AS, yakni di Minnesota dan orang itu baru-baru ini melakukan perjalanan ke Brasil.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait