menu
user
URstyle

Epidemiolog: Ada 2 Varian Virus yang Lebih Menakutkan dari Corona B117

Eronika Dwi,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Epidemiolog: Ada 2 Varian Virus yang Lebih Menakutkan dari Corona B117
Image: Ilustrasi Virus Mutasi Corona. (Foto: Pixabay/Inactive_account_ID_249)

Jakarta - Genap setahun setelah kasus pertama virus corona terdeteksi di Indonesia, kini diperparah dengan kemunculan varian baru virus corona.

Ada jenis varian baru corona yang terdeteksi masuk ke Indonesia, yakni B117. Varian ini berasal dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru pulang dari Saudi Arabia pada akhir Januari lalu.

Dikatakan Epidemiolog dan Dosen FKM Universitas Indonesia, Pandu Riono, virus SARS-CoV-2 (COVID-19) memang mudah bermutasi. Bahkan menurutnya harus bermutasi.

Menurut Pandu Riono, B117 memang lebih mudah menular atau mematikan dari varian sebelum-sebelumnya.

"Penularannya (B117) lebih mudah, lebih efisien untuk menularkan. Misal, yang tadinya hanya menularkan ke satu orang, yang ini bisa lebih. Hal itu dikhawatirkan akan membuat sebagian rumah sakit penuh atau overload," kata Pandu Riono dalam URtalks Urbanasia, Senin (8/3/2021).

Pandu Riono mengatakan, varian B117 pun sudah menyebar dan sudah mendominasi di seluruh dunia.  Hal ini kemudian membuat pandeminya jadi lebih sulit.

Meski begitu, Pandu Riono menyebut, berdasarkan riset beberapa ahli, vaksinasi yang ada saat ini masih cukup efektif terhadap varian B117.

Ada 2 Varian Lain yang Juga Menakutkan

Bukan hanya varian B117, Pandu Riono mengatakan, jenis SARS-CoV-2 yang juga harus kita takutkan adalah varian asal Afrika Selatan, yakni B1351 atau yang digambarkan sebagai 'varian raja'.

Varian B1351 dikhawatirkan berdampak pada penularan yang meningkat hingga memicu infeksi parah dan efikasi (kemanjuran) pada vaksin corona.

Efikasi vaksin corona ini terjadi pada vaksin Corona Novavax, yang mana efikasi turun dari 96 persen menjadi 60 persen.

"(Varian B1351) dapat menurunkan perlindungan vaksin. PCR kita yang untuk mendeteksi adanya COVID-19 pun bisa menurun, jadi lolos," kata Pandu Riono.

Selain varian  B117 dan B1351, Pandu Riono mengatakan, varian jenis P1 dari Brasil juga patut dikhawatirkan. Dia mengatakan varian P1 ini tidak dikenali oleh imunitas kita.

Melansir Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian ini tampaknya juga mengandung mutasi yang meningkatkan kekhawatiran tentang penularan dan potensi infeksi ulang.

Varian B1351 pertama kali ditemukan Oktober tahun lalu, dan sudah menyebar ke banyak negara termasuk Asia seperti Filipina.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut ada kemungkinan reinfeksi terjadi akibat varian ini.

Sementara P1 dari Brasil, pertama kali terdeteksi di pertengahan Januari, pada pelancong dari negara bagian Amazonas di Brasil yang pergi ke Jepang.

Varian B1351 dan P1 pun masuk dalam daftar perhatian WHO.

"Namun, saya masih tunggu datanya. Mudah-mudahan nggak seperti itu," pungkas Pandu Riono. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait