Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Soal Sumbangan Rp 2 Triliun Akidi Tio, PPATK Sebut Mendekati Bodong

Nivita Saldyni,
3 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Soal Sumbangan Rp 2 Triliun Akidi Tio, PPATK Sebut Mendekati Bodong
Image: Keluarga alm Akidi Tio serahkan bantuan uang tunai senilai Rp 2 triliun kepada Polda Sumsel untuk membantu penanganan COVID-19. (Dok: Polda Sumsel)

Jakarta - Dana hibah Rp 2 triliun dari keluarga almarhum Akidi Tio yang masih menjadi teka-teki. Namun, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Dian Ediana Rae mengatakan dalam konteks analisis keuangan secara domestik, dana sumbangan itu mendekati bodong. 

"Sebenarnya hampir mendekati kesimpulan. Kami masih ada beberapa informasi tambahan yang masih coba kami gali di lapangan. Tapi sebetulnya, kalau dalam konteks analisis keuangan secara domestik, semuanya sudah clear bahwa ini bisa dikatakan mendekati bodong," kata Dian dalam sebuah diskusi seperti dikutip Urbanasia dari kanal YouTube PPATK, Rabu (4/8/2021).

Ia menjelaskan bahwa pihaknya akan menggali informasi lebih dalam, termasuk adanya kemungkinan transfer dana dari luar negeri.

"Sebelum mungkin terjadi sesuatu hal, yang artinya pembuktian lain di dalam poin-poin kecil yang terkait dengan kemungkinan-kemungkinan, katakanlah transfer dana dari luar negeri yang ini pun sebetulnya juga bagian dari pemantauan PPATK, karena PPATK bisa melakukan monitoring terhadap keluar-masuknya dana," jelasnya lebih lanjut.

Sementara itu, Dian mengaku dari pantauan pihaknya diketahui belum ada transaksi dana Rp 2 triliun dari keluarga almarhum Akidi Tio hingga Selasa (3/8/2021) sore. Padahal menurutnya proses transaksi bilyet giro sebenarnya cukup sederhana, asalkan dana tersedia di rekening yang bersangkutan.

"Jadi sebenarnya kalau uang ini ada dan tidak ada isu sama sekali yang terkait isu hukum maupun isu lainnya, sebenarnya transaksi seperti ini adalah transaksi yang bisa berjalan dengan sangat cepat," katanya.

"Bilyet giro adalah salah satu bentuk instrumen pengalihan dana, yang sebetulnya mungkin kalau hanya fisiknya itu saja tidak terlalu penting, yang penting adalah apakah betul-betul di-backup oleh uang sejumlah yang memang ditulis di situ (Rp 2 triliun)," imbuhnya.

Namun sayangnya, hasil pemantauan PPATK dan laporan dari pihak perbankan di Indonesia menyatakan bahwa dana dalam rekening bilyet giro yang diberikan tidak mencukupi.

"Sebetulnya ini adalah suatu proses yang sederhana, ini kan jumlahnya besar tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat ketika profilnya itu tidak sesuai atau profil yang menyumbang dengan jumlah yang sebesar itu tidak sesuai. Sehingga ini yang betul-betul perlu dipastikan oleh PPATK, apakah itu betul-betul ada uangnya dan ketika kami masuk sampai hari ini, kami juga mendapat laporan dari teman-teman perbankan bahwa memang uang itu sendiri memang belum ada," pungkasnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait