URstyle

Awas, Cuaca Ekstrem dan Paparan Sinar Matahari Bisa Tingkatkan Risiko Katarak!

Urbanasia, Rabu, 20 Mei 2026 18.58 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Awas, Cuaca Ekstrem dan Paparan Sinar Matahari Bisa Tingkatkan Risiko Katarak!
Image: Ilustrasi - Orang dengan gangguan penglihatan. (Freepik)

Jakarta — Cuaca ekstrem dan paparan sinar matahari yang tinggi ternyata tidak hanya berdampak pada kulit, tetapi juga bisa meningkatkan risiko gangguan penglihatan seperti katarak.

Di negara tropis seperti Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, paparan sinar matahari berlangsung hampir sepanjang tahun. Kondisi ini membuat risiko katarak bisa terjadi lebih cepat dibandingkan negara lain dengan intensitas matahari lebih rendah.

Menurut Dokter Spesialis Mata sekaligus Head of Research and Medical Training Division JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Nina Asrini Noor, paparan sinar matahari menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat munculnya katarak, terutama di wilayah tropis.

“Salah satu penyebabnya atau faktor yang paling utama tentu adalah dari matahari. Kita hidup di negara khatulistiwa, otomatis paparan matahari sangat tinggi sehingga memang katarak itu terjadi lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang tinggal di negara yang bukan di khatulistiwa,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (20/5).

Katarak merupakan kondisi ketika lensa alami mata menjadi keruh, sehingga cahaya tidak dapat masuk dengan optimal ke retina. Dampaknya, penglihatan menjadi buram, silau, hingga sulit melihat pada malam hari.

Di Indonesia, katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan, terutama pada kelompok usia di atas 50 tahun. Selain faktor usia, paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang juga mempercepat proses kekeruhan pada lensa mata.

Pengobatan Katarak

Masih kata Nina, pengobatan katarak hanya bisa dilakukan dengan operasi. Kabar baiknya, operasi katarak kini telah berkembang jauh lebih modern. 

Salah satu metode yang digunakan adalah Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS), yaitu teknik operasi berbasis laser yang memungkinkan tindakan dilakukan dengan tingkat presisi tinggi.

Melalui teknologi ini, beberapa tahapan penting seperti pembuatan sayatan kornea, pembukaan kapsul lensa, hingga pemecahan lensa yang keruh dapat dilakukan secara lebih terukur dengan bantuan sistem komputer dan pencitraan optik.

Pendekatan ini membuat prosedur menjadi lebih akurat dan minim risiko, sekaligus membantu dokter menyesuaikan tindakan dengan kondisi mata setiap pasien.

Setelah lensa yang keruh diangkat, tahap berikutnya adalah menggantinya dengan lensa tanam atau intraocular lens (IOL) yang berfungsi sebagai pengganti lensa alami mata.

“Pemilihan lensa tanam yang tepat sangat penting karena lensa inilah yang akan menggantikan lensa alami mata dan menentukan kualitas penglihatan setelah operasi,” lanjut Nina.

Saat ini, pilihan lensa tanam semakin beragam. Lensa monofokal umumnya digunakan untuk satu fokus penglihatan, biasanya jarak jauh, sehingga pasien masih membutuhkan kacamata untuk aktivitas jarak dekat.

Sementara itu, lensa multifokal memungkinkan penglihatan di berbagai jarak sekaligus, sehingga lebih fleksibel untuk aktivitas sehari-hari.

Ada juga lensa EDOF (Extended Depth of Focus) yang memberikan rentang fokus lebih luas dengan transisi yang lebih natural, terutama untuk aktivitas modern seperti bekerja di depan layar atau berkendara.

Untuk pasien dengan mata silinder, lensa toric dapat membantu mengoreksi astigmatisme sekaligus saat operasi dilakukan.

Dengan kombinasi metode operasi yang semakin presisi dan pilihan lensa yang semakin personal, penanganan katarak kini tidak hanya berfokus mengembalikan penglihatan, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait