URstyle

CRS dan HIPEC Jadi Terapi Lanjutan untuk Kanker yang Menyebar ke Rongga Perut

Urbanasia, Rabu, 29 April 2026 08.49 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
CRS dan HIPEC Jadi Terapi Lanjutan untuk Kanker yang Menyebar ke Rongga Perut
Image: Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Subspesialis Onkologi di Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Kartiwa Hadi. (Ist)

Jakarta - Penanganan kanker yang telah menyebar ke rongga perut membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan satu metode terapi, tetapi sistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir. 

Hal ini menjadi krusial, mengingat kompleksitas kasus peritoneal carcinomatosis yang selama ini sulit ditangani secara optimal dengan terapi konvensional.

Sebagai solusi untuk masalah medis ini, Primaya Hospital Kelapa Gading memperkuat layanan Cancer Center dengan menghadirkan HIPEC (Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy) yang dikombinasikan dengan Cytoreductive Surgery (CRS). 

Kombinasi teknologi HIPEC dengan CRS ini diklaim sebagai solusi komprehensif bagi pasien kanker yang telah menyebar ke rongga perut (peritoneal carcinomatosis).

“HIPEC bukan hanya teknologi, tetapi bagian dari pendekatan terapi kanker yang komprehensif. Keberhasilan terapi ini sangat bergantung pada kolaborasi multidisiplin,” ujar Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Ferry Aryo dalam forum medis di Jakarta, Selasa (28/4/2026). 

Ferry menambahkan, pendekatan HIPEC dan CRS dikenal sebagai salah satu terapi paling advanced dalam penanganan kanker peritoneal yang sebelumnya memiliki keterbatasan pilihan pengobatan. 

Primaya Hospital Kelapa Gading, kata dia, menghadirkan dua kombinasi ini sebagai upaya untuk memberikan layanan kanker berstandar internasional bagi para pasien dalam negeri. 

Metode ini bekerja dengan dua tahap utama. Pertama, tumor diangkat secara maksimal melalui prosedur CRS. Setelah itu, HIPEC dilakukan dengan mengalirkan kemoterapi bersuhu tinggi langsung ke rongga perut, sehingga obat dapat menjangkau area yang sulit disentuh oleh kemoterapi sistemik.

Menurut Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Subspesialis Onkologi di Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Kartiwa Hadi, pendekatan CRS dan HIPEC merupakan terapi yang bersifat definitif pada kasus kanker dengan keterlibatan peritoneal. 

“CRS dan HIPEC tidak hanya mengangkat tumor, tapi juga menargetkan sel kanker mikroskopis yang sering jadi pemicu kekambuhan,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Kebutuhan terhadap terapi ini semakin relevan di Indonesia. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) mencatat lebih dari 408.000 kasus kanker baru setiap tahun, dengan beberapa jenis seperti kanker kolorektal, lambung, dan ovarium berisiko tinggi menyebar ke rongga peritoneum.

Menurut Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif di Primaya Hospital Kelapa Gading, dr Fajar Firsyada, keberhasilan terapi HIPEC dan CRS sangat ditentukan oleh seleksi pasien dan ketepatan tindakan bedah.

“Dengan seleksi pasien yang tepat dan tindakan yang optimal, terapi ini dapat memberikan peluang survival yang lebih baik dibandingkan terapi konvensional,” ungkapnya.

Dengan semakin berkembangnya layanan kanker berbasis teknologi dan kolaborasi multidisiplin, pasien kini memiliki alternatif penanganan yang lebih komprehensif di dalam negeri. 

Pendekatan seperti CRS dan HIPEC pun menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas terapi sekaligus membuka peluang hidup yang lebih baik bagi pasien kanker stadium lanjut.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait