URstyle

DBD Masih Tinggi, United Against Dengue Dibentuk untuk Perkuat Pencegahan

Urbanasia, Jumat, 13 Maret 2026 14.46 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
DBD Masih Tinggi, United Against Dengue Dibentuk untuk Perkuat Pencegahan
Image: United Against Dengue diinisiasi oleh Takeda, IFRC, dan PMI untuk perkuat pencegahan dengue. (Ist)

Jakarta - Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan yang sulit ditekan di Indonesia. Meski kampanye pencegahan terus dilakukan setiap tahun, angka kasus masih tinggi dan meningkat saat musim hujan datang.

Banyak orang baru sadar pentingnya pencegahan setelah muncul kasus di lingkungan sekitar. Padahal, dengue termasuk penyakit yang sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat sehari-hari.

Melihat tantangan tersebut, Takeda bersama International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) dan Palang Merah Indonesia (PMI) meluncurkan aliansi ‘United Against Dengue: Penguatan Kemitraan untuk Pencegahan Dengue dan Peningkatan Ketangguhan Masyarakat’.

Aliansi ini menjadi bagian dari kerja sama regional yang sebelumnya diluncurkan di Asia Pasifik pada 2025, dan Indonesia menjadi negara pertama yang mengaktifkannya di tingkat nasional. 

Fokusnya adalah memperkuat pencegahan dengue lewat kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, organisasi kemanusiaan, sektor swasta, hingga masyarakat.

Kasus dengue sendiri masih tergolong tinggi secara global. Data World Health Organization (WHO) mencatat terdapat 14,6 juta kasus dengan sekitar 12 ribu kematian pada 2024.

Di Indonesia, beban penyakit ini juga besar. Data BPJS Kesehatan menunjukkan lebih dari satu juta kasus rawat inap akibat dengue pada 2024, dengan beban ekonomi mencapai hampir Rp3 triliun. 

Angka ini menunjukkan bahwa dengue bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berdampak pada produktivitas dan biaya kesehatan masyarakat.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan upaya melawan dengue tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kemitraan yang kuat dan berkelanjutan.

“Melalui aliansi United Against Dengue, kami ingin mendorong penguatan upaya pencegahan melalui edukasi yang menjangkau berbagai elemen masyarakat dan komunitas di Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan terkait,” ujarnya, dikutip Jumat (13/3/2026). 

Aliansi United Against Dengue dirancang untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas. 

Program yang dijalankan mencakup edukasi pencegahan, peningkatan kesadaran, penguatan sistem respons, serta pemanfaatan inovasi untuk menekan penularan dan tingkat keparahan penyakit.

Perwakilan IFRC, Kathryn Clarkson, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penting dalam menghadapi penyakit menular seperti dengue, terutama di negara dengan risiko tinggi seperti Indonesia.

“Melalui inisiatif United Against Dengue, kami ingin memperkuat kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemanusiaan, sektor swasta, dan masyarakat untuk mendorong upaya pencegahan yang berkelanjutan,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Palang Merah Indonesia yang selama ini terlibat langsung dalam berbagai program kesehatan masyarakat, termasuk pengendalian penyakit menular.

Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Pengurus Pusat PMI, Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, menegaskan bahwa pendekatan multipihak diperlukan agar program pencegahan bisa berjalan efektif sampai ke tingkat masyarakat.

“PMI meyakini pentingnya kolaborasi multipihak agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Inisiatif ini juga sejalan dengan strategi nasional pengendalian dengue, di mana PMI berperan sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat implementasi di tingkat komunitas,” ujarnya.

Melalui aliansi United Against Dengue, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan saat terjadi lonjakan kasus, tetapi diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Dengan pendekatan edukasi, advokasi, dan dukungan berbasis komunitas, kolaborasi ini ditargetkan dapat membantu mencapai tujuan global untuk menekan kematian akibat dengue hingga nol pada tahun 2030.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait