Deg-degan dan Irama Jantung Tak Beraturan, Kapan Harus ke Dokter?
.jpeg)
Jakarta - Jantung tiba-tiba deg-degan atau terasa nggak beraturan memang sering bikin panik. Tapi pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukan sekadar ‘ini berbahaya atau nggak?’, melainkan kapan kondisi ini harus diperiksakan ke dokter.
Dokter Konsultan Aritmia di Eka Hospital MT Haryono, dr Evan Jim Gunawan, Sp.PD., Sp.JP., menjelaskan, jantung bekerja dengan sistem listrik yang mengatur setiap detaknya. Dalam kondisi normal, sinyal listrik ini berjalan lancar sehingga irama jantung terasa stabil dan teratur.
“Kalau ada gangguan pada jalur listrik jantung, iramanya bisa berubah jadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan. Kondisi ini yang disebut aritmia,” jelas dr. Evan dalam Media Meet Up di Eka Hospital MTH, Selasa (31/3/2026).
Aritmia sendiri punya beberapa jenis yang umum terjadi. Ada takikardia saat detak jantung lebih dari 100 kali per menit, bradikardia ketika kurang dari 60 kali per menit, dan juga kondisi tidak teratur seperti atrial fibrilasi yang sering terasa paling mengganggu.
Adapun menurut dr. Evan, aritmia yang paling umum terjadi adalah Atrial Fibrilasi (AF), yaitu ketika detak jantung terasa tidak beraturan. Jika tidak ditangani dengan baik, katanya, AF bisa memicu penggumpalan darah yang berisiko menyebabkan stroke.
Meski begitu, nggak semua deg-degan berarti berbahaya. Dalam banyak kasus, jantung berdebar justru dipicu hal-hal yang masih tergolong normal, seperti habis minum kopi, kelelahan, olahraga berat, atau emosi yang intens.
Yang perlu kamu waspadai adalah ketika deg-degan muncul tanpa sebab yang jelas, berlangsung cukup lama, atau terasa semakin sering. Kondisi seperti ini bisa mengarah ke gangguan yang lebih serius dan butuh pemeriksaan medis.
“Kalau muncul tiba-tiba tanpa pemicu dan tidak hilang, sebaiknya segera diperiksa karena bisa jadi ada gangguan pada sistem listrik jantung,” tegas dr. Evan.
Dokter Konsultan Aritmia di Eka Hospital MT Haryono, dr Evan Jim Gunawan, Sp.PD., Sp.JP. (Urbanasia)
Selain itu, ada beberapa tanda yang nggak boleh kamu abaikan. Misalnya saat jantung berdebar disertai pusing hebat, hampir pingsan, sesak napas, nyeri dada, atau kelelahan ekstrem tanpa alasan yang jelas.
Gejala-gejala ini bisa menjadi sinyal bahwa kerja jantung sudah terganggu dan tubuh butuh penanganan lebih lanjut. Dalam kondisi seperti ini, menunda pemeriksaan justru bisa meningkatkan risiko komplikasi.
Untuk memastikan penyebabnya, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan seperti EKG untuk melihat aktivitas listrik jantung secara cepat. Namun karena aritmia sering muncul hilang-timbul, pemeriksaan lanjutan seperti Holter monitoring juga sering diperlukan.
“Holter monitoring bisa merekam detak jantung selama 24 sampai 48 jam, jadi lebih akurat untuk menangkap gangguan yang tidak selalu muncul,” jelas dr. Evan.
Faktor risiko juga perlu kamu perhatikan. Kondisi seperti hipertensi, diabetes, gangguan tiroid, hingga sleep apnea bisa memengaruhi irama jantung tanpa disadari. Bahkan ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium dan magnesium juga bisa jadi pemicu.
Kabar baiknya, aritmia saat ini sudah bisa ditangani dengan teknologi medis yang lebih canggih. Salah satu metode yang cukup umum adalah ablasi jantung, yaitu prosedur minimal invasif untuk memperbaiki jalur listrik yang bermasalah.
“Dengan teknologi sekarang, banyak kasus aritmia bisa ditangani tanpa operasi besar, sehingga pasien bisa kembali beraktivitas normal,” pungkasnya.
