Mengenal Glaukoma: Penyakit Mata yang ‘Diam-diam’ Sebabkan Kebutaan

Jakarta - Dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret, kesadaran tentang kesehatan mata kembali disorot.
Kampanye global yang digagas World Glaucoma Association ini mengajak masyarakat lebih waspada terhadap glaukoma, penyakit mata yang sering berkembang tanpa disadari.
Tema tahun ini, ‘Uniting for a Glaucoma-Free World’, menekankan pentingnya deteksi dini agar risiko kebutaan akibat glaukoma bisa dicegah sejak awal.
Di Indonesia sendiri, glaukoma menjadi salah satu penyebab kebutaan yang cukup tinggi. Data Kementerian Kesehatan RI (2023) menunjukkan prevalensinya mencapai sekitar 0,46 persen, atau sekitar 4–5 orang dari setiap 1.000 penduduk.
Penyakit Mata yang Sering Tidak Disadari
Glaukoma adalah penyakit saraf mata yang merusak saraf optik secara perlahan. Kerusakan ini sering berkaitan dengan peningkatan tekanan di dalam bola mata.
Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada di kisaran 10–21 mmHg. Namun ketika tekanan meningkat atau saraf optik lebih rentan terhadap kerusakan, penglihatan dapat terganggu secara bertahap hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang.
Ketua Glaukoma Service JEC Group, Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo mengatakan, kondisi ini harus ditangani segera karena jika tidak, maka bisa berujung pada kebutaan permanen.
Namun masalahnya, kata Prof Widya, banyak kasus glaukoma tidak disadari dan baru terdeteksi ketika seseorang melakukan pemeriksaan mata.
“Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, nyeri pada mata, hingga mual dan muntah, masyarakat perlu segera memeriksakan diri.
“Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini,” lanjutnya.
Baca Juga: Wah, 5 Sayuran Ini Baik untuk Kesehatan Mata
Jenis dan Faktor Risiko Glaukoma
Dokter Mata Subspesialis Glaukoma di JEC Group, Dr. Zeiras Eka Djamal. (Urbanasia)
Glaukoma bukan hanya satu jenis penyakit. Ada beberapa tipe dengan karakteristik yang berbeda.
Jenis yang paling umum adalah glaukoma primer sudut terbuka, yang berkembang perlahan dan biasanya tanpa gejala. Penglihatan akan menyempit secara bertahap dari sisi samping sehingga sering tidak disadari.
Sementara itu, glaukoma sudut tertutup dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, hingga penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis.
Selain itu, ada juga glaukoma kongenital yang terjadi pada bayi akibat kelainan bawaan, serta glaukoma sekunder yang muncul akibat kondisi lain seperti cedera mata, diabetes, atau penggunaan obat steroid jangka panjang.
Menurut Prof. Widya, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena glaukoma.
“Beberapa faktor seperti riwayat keluarga, diabetes melitus, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi, hingga riwayat trauma mata dapat meningkatkan risiko glaukoma,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa penyakit ini tidak hanya menyerang orang lanjut usia.
“Glaukoma tidak hanya menyerang usia lanjut. Pada bayi juga dapat terjadi glaukoma bawaan,” tambahnya.
Deteksi Dini Penting untuk Mencegah Kebutaan
Sementara itu, Dokter Mata Subspesialis Glaukoma Dr. Zeiras Eka Djamal, menjelaskan bahwa kerusakan penglihatan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan. Karena itu, pencegahan melalui deteksi dini menjadi sangat penting.
“Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas,” katanya dalam Media Gathering JEC Group di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa diagnosis glaukoma biasanya dilakukan melalui beberapa pemeriksaan mata, mulai dari pengukuran tekanan bola mata hingga pemeriksaan lapang pandang.
“Pemeriksaan seperti tonometri, Optical Coherence Tomography, serta pemeriksaan lapang pandang membantu dokter mendeteksi glaukoma sejak dini dan memantau perkembangan penyakit,” jelasnya.
Jika sudah terdeteksi, penanganan glaukoma dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari obat tetes mata, terapi laser, hingga tindakan operasi untuk membantu mengontrol tekanan bola mata.
Dengan diagnosis yang tepat dan pemantauan rutin, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga.
