Portimao - Performa buruk Suzuki di MotoGP Portugal berbuah pahit. Suzuki gagal menyapu bersih gelar juara dunia karena Ducati yang berjaya di kelas konstruktor. Mantap!

Suzuki sudah mengunci gelar juara dunia pebalap lewat Joan Mir pekan lalu. Joan Mir jadi juara dunia di Valencia setelah finis posisi ketujuh dan sudah cukup untuk memecahkan puasa gelar sejak Kenny Roberts Jr pada 2000.

Selain itu, Suzuki juga berhasil meraih gelar juara dunia tim lewat Suzuki Ecstar. Performa Joan Mir dan Alex Rins membuat Suzuki mengumpulkan 309 poin yang membuat mereka tak terkejar Petronas Yamaha.

Nah, masih ada satu gelar yang belum didapat Suzuki yakni juara dunia konstruktor karena bersaing ketat dengan Ducati hingga balapan terakhir di Portugal, Minggu (22/11/2020) malam WIB.

Untuk menyapu bersih seluruh gelar juara dunia, Suzuki mengalami jalan terjal karena Joan Mir sebagai juara dunia tampil buruk dan akhirnya gagal finis, setelah out pada lap ke-10.

Sementara itu, Alex Rins cuma finis ke-15. Gelar juara dunia konstruktor gagal didapat karena Ducati berhasil menambah 20 poin berkat Jack Miller yang finis kedua pada balapan pamungkas di MotoGP Portugal.

Miller berhasil finis kedua usai menyalip Franco Morbidelli di akhir balapan. Ducati berhasil menambah 20 poin untuk melewati Suzuki di klasemen konstruktor dengan 221 poin.

Suzuki malah turun ke posisi ketiga klasemen dengan 202 poin, disalip Yamaha yang punya 204 poin. Ducati mampu menghentikan dominasi Suzuki dengan gelar juara dunia konstruktor kedua setelah 2007.

Saat itu Casey Stoner jadi juara dunia. Ducati berhasil menghentikan duopoli Honda dan Yamaha yang bergantian menguasainya dalam 12 musim beruntun. Rinciannya delapan untuk Honda dan empat untuk Yamaha.

Meski demikian, gelar juara dunia konstruktor Ducati masih kalah ketimbang Suzuki yang sudah tujuh kali. Yamaha di posisi kedua dengan 14 titel, sementara Honda dan MV Agusta punya 16 titel.

Selamat buat Ducati, setidaknya bisa jadi gelar hiburan setelah Andrea Dovizioso gagal bersaing.

Komentar
paper plane