beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URtainment

Tantangan Prilly Latuconsina dan Umay Shahab Garap Film ‘Kukira Kau rumah’

Naura Aufani Zalfa,
27 Januari 2022 11.09.16 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Tantangan Prilly Latuconsina dan Umay Shahab Garap Film ‘Kukira Kau rumah’
Image: Kunjungan Prilly dan Umay ke Kantor Urbanasia Rabu (26/1/2022)/Dok. Urbanasia

Jakarta - Film 'Kukira Kau Rumah' menjadi debut pertama Umay Shahab menjadi seorang sutradara. Film besutan MD Pictures ini rencananya bakal tayang di bioskop mulai tanggal 3 Februari 2022 mendatang.

Aktor Prilly Latuconsina pun ikut terlibat dalam film ini. Bukan hanya sebagai pemeran utama namun ia juga menjadi produsernya.

Film ‘Kukira Kau Rumah’ adalah film drama-psikologis yang diadaptasi dari lagu yang dibawakan oleh Amigdala dengan judul yang sama.

Film ini menceritakan tentang seorang anak yang mengidap bipolar dan memiliki cita-cita yang tinggi, namun, terhambat oleh lingkungan sosial dan stigma yang ada di masyarakat mengenai mental health issue.

Prilly Latuconsina mengungkapkan, judul film ‘Kukira Kau Rumah’ awalnya terinspirasi saat ia mendengarkan lagu Amigdala. Ia mengatakan langsung jatuh cinta dengan lirik dan iramanya.

“Sebenarnya, cerita ini jadi dulu ‘tanpa judul’. Nah, terus kita berdua tiba-tiba ngedengerin lagunya Amigdala yang ‘Kukira Kau Rumah’ dan kita jatuh cinta sama liriknya, sama melodinya, sama arti dan makna dari lagu itu sendiri dan merasa relate dan  ‘oh mirip nih’ dan kita bikin sama lagunya Amigdala," ujar Prilly saat berkunjung ke kantor Urbanasia, Rabu (26/1/2022).

Pada dasarnya, film ‘Kukira Kau Rumah’ disajikan sebagai sebuah harapan terhadap seseorang dan menjadikannya sebagai rumah, tempat yang nyaman. Namun, tidak semua harapan yang telah dibangun itu akan sesuai dengan ekspektasi.

Berbagi pengalaman pertamanya menjadi seorang produser, Prilly mengungkap dirinya mengalami tantangan yang cukup banyak. Pasalnya, ia juga harus membagi konsentrasinya sebagai tokoh utama yang memerankan karakter Niskala.

“Sangat menantang karena aku harus take care of everything bener–bener project nya dari 0  dari belum jadi apa-apa, kita harus take to budget-nya, krunya, produksinya, lokasi, jalan cerita dan segala macam gitu. Tapi aku juga harus membagi konsentrasi aku menjadi pemain gitu yang mana aku juga harus research soal bipolar, aku juga harus observasi banyaklah untuk bisa memerankan karakter Niskala ini. Jadi double job gitu ya,” ungkap Prilly.

Selain itu, dengan debut pertamanya sebagai produser dan sutradara, Prilly dan Umay juga harus melawan banyak stigma yang meragukan kualitas film garapan mereka. Namun, dengan dikelilingi tim yang hebat, Prilly merasa lebih percaya diri dan memiliki keyakinan film ini akan sukses.

Sutradara film ‘Kupikir Kau Rumah’, Umay, juga mengatakan tantangan terbesarnya dalam memproduksi film ini adalah ia harus melawan dirinya sendiri agar menampilkan yang terbaik.

“Kalau dari gua sebenarnya, dari dulu di class meeting kita kalau lagi kompetisi terus diliatin sama kakak kelas dan lain-lain itu kan grogi ya. Kalau ditanya tantangan, itu sih tantangannya. Kaya karena dari konteks yang positif ataupun negatif banyak yang remehin tapi yang support juga banyak banget. Cuma bagaimana gue, bagaimana Prilly, bagaimana Jordi, dan lain-lain bisa melawan dirinya sendiri gitu loh untuk nampilin yang terbaik tanpa pengen kelihatan keren,” tambah Umay.

Melalui proses yang panjang, penulisan naskah film yang mengangkat isu mental illness ini bekerja sama dengan psikolog dan Bipolar Care Indonesia. Hal ini membuktikan bagaimana keseriusan Prilly dan Umay dalam menggarap film pertama mereka sebagai produser dan sutradara.

Tak hanya itu, Umay menganggap film ‘Kukira Kau Rumah’ ini bukan hanya sekedar film yang mengangkat isu kesehatan mental sebagai gimmick atau tempelan, ia dan Prilly merasa film garapannya bisa dijadikan bukti bahwa anak muda juga bisa menjalani mimpinya.

“Karena pada dasarnya kita nggak mau jadiin isu ini cuma sebagai gimmick doang atau tempelan. Tapi lebih kepada kita mau ngasih suara lebih besar lagi terhadap isu yang lagi penting dan harus disuarakan gitu loh jadi emang bukan cuma sekedar ‘oh ini lagi rame nih kita bahas aja ntar’. Sama sekali nggak pernah ada pikiran ke sana sih,” ungkap Umay. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait