menu
user
URnews

Tips Mulai Investasi Saham Biar Nggak Kejebak 'Pompom Saham'

Griska Laras,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Tips Mulai Investasi Saham Biar Nggak Kejebak 'Pompom Saham'
Image: Ilustrasi Saham/Freepik

Jakarta - Belakangan marak influencer yang menyebarkan saham-saham tertentu dengan memamerkan keuntungan besar di media sosial alias pompom saham.

Fenomena pompom saham ini bertujuan untuk membuat orang tertarik menjadi investor saham tersebut.

Namun ternyata tindakan tersebut sangat berisiko karena dapat menjerumuskan investor ke dalam kerugian, terutama bagi pemula.  

Dalam sesi URwealth, Senior Financial Advisor Bareyn Mochaddin memberikan beberapa tips yang perlu diperhatikan orang-orang yang baru mulai investasi saham agar terhindar dari 'pompomers'.

Pertama, mengingatkan agar investor tidak mudah tergiur dengan saham yang dipromosikan para selebriti.

"Harus cek lagi bener nggak sih apa yang disampaikan influencer , jangan asal terima mentah-mentah informasinya. Jadi masyarakat harus proaktif untuk mencari tahu dan melakukan riset," kata pria yang akrab disapa Rei itu.

Berbeda dengan instrumen investasi lainnya seperti emas dan deposito, menurut Rei, investasi saham memiliki risiko yang cukup besar.

Oleh karena itu, investor perlu melakukan analisa secara fundamental sebelum memutuskan membeli saham.

"Ceknya adalah dari segi fundamental dari sisi bisnis, manajemen, maupun laporan keuangan seperti apa.  Dan juga dari segi teknikal, seperti histori transaksi saham dan dari permintaan saham tersebut. Pokoknya jangan malas melakukan riset," jelas Rei.

"Penting banget untuk belajar dulu sebelum mulai investasi, lebih baik mengeluarkan sedikit uang untuk menambah wawasan ke diri sendiri dulu daripada nanti rugi di akhir. Sekarang sudah banyak kok kelas online soal pasar modal, atau bahkan dengan cara sesimpel baca buku dan follow orang-orang kredibel di media sosial," lanjutnya.

Setelah itu, pastikan dulu pengelolaan keuangan sudah baik dan punya dana lebih untuk diinvestasikan.  Barulah kemudian menentukan tujuan keuangan yang mau dicapai.

"Sebelum memutuskan konflik kita harus tahu apa tujuan keuangan yang mau dicapai. Misalnya untuk biaya sekolah anak atau buat liburan barulah kemudian memilih saham atau investasi lain yang tepat".

Rei menyebut saham memang memberi keuntungan besar, tapi juga merasakan risiko yang sama besar.

Jika memang belum siap finansial, dia menyarankan agar investor pemula lebih dulu belajar di pasar uang.  

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait