Hot News

Sudah sekitar empat tahun aku berpacaran dengan seorang perempuan, sebut saja Kintan. Kami sama-sama berkuliah di salah satu Universitas Negeri di Bandung.

Sebenarnya, tidak ada yang kurang dari Kintan. Dia cantik, baik, dan pastinya dia tidak materialistis. Dengan wajahnya yang di atas rata-rata, Kintan sebenarnya bisa mendapat pacar yang lebih dari aku.

Lebih ganteng dan lebih kaya. Dua kriteria cowok itu hampir pasti ada di urutan paling atas dari daftar yang dipunyai oleh cewek-cewek dengan kategori good looking. Itu menurutku.

Namun Kintan berbeda. Meski banyak cowok bermobil yang mendekatinya, dia tetap memilihku. Dia setia denganku sampai bertahun-tahun.

“Menurutku, dia adalah satu-satunya cewek cantik yang mau diajak naik motor saat itu,” candaku setiap kali ada yang bertanya kenapa aku bisa jatuh cinta sama Kintan.

Tentu saja itu cuma candaan. Sebenarnya, aku memang benar-benar menyukai Kintan. Bahkan untuk mendapatkan Kintan, aku dulu harus berjuang mati-matian.

Namun entah kenapa, pada tahun keempat hubunganku dengan Kintan berjalan, aku mendadak merasakan kebosanan yang sangat. Kintan tetap baik tapi ada yang tak beres pada hubungan kami.

Aku merasa rutinitas pacaran kami berdua yang gitu-gitu aja, itu yang bikin aku berpikir untuk melirik perempuan lain. Dan kebetulan, saat itu, ada seorang perempuan yang juga cantik mendekatiku.

1591152073-tipe-peselingkuh6.jpgSumber: null

Hingga aku akhirnya dekat dengannya. “Ya aku cuma pingin merasakan suasana baru aja. Dan apalagi perempuan ini bisa memberi yang tak bisa diberikan oleh pacarku,” kataku.

“Tapi sebenarnya waktu itu nggak ada hubungan yang jelas antara aku dengan perempuan ini. Jadi waktu itu sih aku nggak merasa bahwa aku selingkuh,” kataku saat ditanya teman tentang alasan selingkuh.

Namun perempuan mana yang tahan saat tahu pacarnya dekat dengan perempuan lain. Kintan pun akhirnya mengetahui kedekatanku dengan perempuan ini.

Marah? Tentu saja. Kintan benar-benar ngamuk dan bahkan memutuskanku. “Dia bilang nggak mau memaafkanku dan dia sakit hati banget,” kataku.

Aku merasa sedih melihat Kintan menangis. Aku berkali-kali meminta maaf. Saat itu, aku juga sangat menyesal karena telah menyakiti Kintan. Aku terus meminta maaf sambil menangis.

Namun Kintan tetap pada pendiriannya, dia tak mau lagi menjalani hubungan denganku. Dia memilih putus dan tak mau kenal denganku lagi. Aku sedih.

1589293466-sedih-depresi2.jpgSumber: null

Setelah peristiwa itu, aku dan Kintan sama sekali tak berkomunikasi. Kintan yang masih hancur lebur benar-benar tak mau membalas pesanku maupun mengangkat teleponku.

Namun aku tak menyerah. Aku terus menghubunginya sampai akhirnya Kintan merespons. Kami lalu berbicara empat mata soal perselingkuhanku yang memalukan itu.

“Kenapa kamu tega banget begitu, aku salah apa? Aku kurang apa?” tanya Kintan sambil terus bercucuran air mata. Aku pun ikut menangis melihat Kintan terluka seperti itu.

Jauh di dalam lubuk hatiku, Kintan masih tak bisa tergantikan. Dan aku tahu bahwa itu salah. Tapi aku benar-benar menyesal dan ingin sekali Kintan mau kembali.

Usai perbincangan itu, Kintan masih belum mau membuka hati. Dia mengaku trauma dan takut aku akan mengulangi perselingkuhan itu lagi sehingga bikin dia sakit hati lagi.

“Satu kali berselingkuh, biasanya orang akan berselingkuh lagi,” kata Kintan saat itu.

Aku tentu saja tidak bisa menyangkal. Banyak orang pasti akan mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh Kintan. Aku pun hanya bisa pasrah.

Meski pasrah, aku tak berhenti mencoba untuk terus mendapatkan Kintan kembali. Apalagi, di hari-hariku tanpa Kintan, aku benar-benar merasa kesepian dan merasa depresi.

Tapi semua itu kuanggap sebagai harga yang harus kubayar karena telah berselingkuh. Dan sejak itu pula aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama.

---

Buat kamu yang kepo gimana sih cerita lengkap soal perselingkuhan dari sudut pandang korban dan pelaku, yuk dengerin podcast-nya di link berikut ini!
 

Komentar

Loading ..