Hot News

Malam itu mungkin menjadi malam terkelam di hidupku. Saat sedang sibuk-sibuknya bekerja di negeri tetangga, Singapura, mendadak aku mendapat telepon dari nomor tidak dikenal.

Dari nomornya, aku tahu itu dari Indonesia namun tak ada nomornya di daftar kontakku. Awalnya aku agak bertanya-tanya tentang siapa orang yang meneleponku.

Namun akhirnya pun mengangkatnya. “Halo,” terdengar suara seorang perempuan di ujung telepon. Aku yang tak berpikir apa-apa saat itu langsung bertanya.

“Ya, ini siapa,” tanyaku santai.

Bukannya menjawab siapa namanya, perempuan itu malah menanyakan sebuah pertanyaan yang aneh.

“Kamu lagi sama Adi nggak,” tanyanya. Adi adalah nama mantan pacarku yang saat itu masih menjadi pacarku. Kami saat itu sudah berpacaran kurang lebih lima tahun.

Kami pacaran sejak aku kuliah di Bandung. Dan sejak aku lulus dan bekerja di Jakarta. Aku dan Adi menjalani long distance relationship alias LDR.

Dan mendengar seorang perempuan di telepon menanyakan keberadaan Adi, aku sempat agak berpikir. Namun aku buru-buru menyingkirkan negative thinkingku itu.

“Oh enggak, aku lagi di Singapura. Memangnya ada apa?” tanyaku balik.

Lagi-lagi bukannya menjawab, perempuan itu justru seperti mengelak. 

“Oh gitu, ya udah kalo lo lagi sama dia, tolong sampein ke dia supaya cepat pulang karena ibunya nyariin,” katanya.

Dan aku masih tanpa curiga, pun mengiyakan permintaannya. Dan setelah telepon ditutup, aku pun menghubungi pacarku untuk menyampaikan pesan dari perempuan itu.

1601101324-girl-1245713-640.jpgSumber: Ilustrasi menerima telepon. Sumber: Free-Photos/Pixabay

“Kamu di mana, tadi ada cewek nelepon aku nanyain kamu. Katanya kamu dicari ibu. Dia siapa ya?” tanyaku santai.

Pacarku sempat terdiam beberapa detik sebelum mulai bicara. Tiba-tiba saja, dia membuat pengakuan yang membuatku seperti tersambar petir yang kuat.

“Oh iya, maaf banget ya aku sudah berubah. Itu tadi pacarku,” katanya.

Aku sempat mengira itu hanya candaan dia saja. Karena kejadian itu berdekatan dengan ulang tahunku.

“Jadi kukira itu prank dia untuk ulang tahunku. Jadi aku bilang, apaan sih bikin prank kayak gitu. Nggak lucu ah,” kataku.

Namun ternyata semua itu bukan candaan. Pacarku ternyata sudah berselingkuh sejak setahun terakhir.

“Maaf aku sudah selingkuh dari kamu, aku juga sudah tidur dengan pacarku itu dan dia sudah hamil,” kata pacarku yang bikin hatiku semakin hancur lebur.

Aku yang kebingungan karena sedang tak ada teman dekat satupun di Singapura akhirnya cuma bisa menangis di lobi hotel. Aku tak peduli banyak orang melihat ke arahku.

ilustrasidepresi1.jpegSumber: Ilustrasi sedih / rd.com

Setelah mencoba menenangkan diri, aku mencoba untuk mengobrol dengan pacarku. Aku ingin bertanya mengapa dia melakukan hal yang bikin aku sakit hati itu.

Namun saat itu pacarku tak menjelaskan apa-apa. Dia hanya berkali-kali minta maaf. Jadi 80 persen obrolanku dengan dia saat itu ya dia cuma minta maaf saja.

Setelah itu aku hancur. Aku masih tidak percaya pacarku tega melakukan itu. Tapi kenyataannya, dia memang telah melakukan hal yang selama ini tidak pernah kubayangkan itu.

Aku butuh lebih dari setahun untuk bisa sedikit baik-baik saja. Dulu, jangankan untuk bercerita panjang lebar, baru kepikiran mau cerita ke teman saja, aku sudah menangis tak karuan.

Tapi kini, peristiwa itu sudah dua tahun berlalu. Lupa? Tentu tidak. Tapi peristiwa itu bikin aku jadi lebih hati-hati dan tak gampang percaya dengan yang namanya laki-laki.

Namun aku tidak trauma menjalin hubungan dengan kaum adam. Aku tahu tak semua laki-laki seperti mantan pacarku. Yah, meski sampai hari ini aku masih jomblo sih.

---

Buat kamu yang kepo gimana sih cerita lengkap soal perselingkuhan dari sudut pandang korban dan pelaku, yuk dengerin podcast-nya di link berikut ini!
 

Komentar

Loading ..