Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URguide

3 Tips Menumbuhkan Rasa Kritis Anak untuk Antisipasi Pelecehan Seksual

Nivita Saldyni,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
3 Tips Menumbuhkan Rasa Kritis Anak untuk Antisipasi Pelecehan Seksual
Image: ilustrasi belajar di sekolah (Pinterest/panduan guru)

Jakarta - Banyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang terungkap akhir-akhir ini di lingkungan pendidikan, termasuk salah satunya pesantren.

Tak sedikit di antaranya terungkap dari beberapa korban yang berani untuk berbicara tentang apa yang dialaminya.

Namun tentu itu bukan hal yang mudah. Psikolog Halida Ulfah mengatakan, untuk membuat anak berani dan bersikap kritis, termasuk dalam menghadapi masalah kekerasan dan pelecehan seksual, butuh peran orang tua dan juga lingkungan sekitar.

“Yang pasti pada kasus atau perkembangan anak, pendidik itu tidak bisa bekerja sendiri. Jadi tetap ada pendampingan dari orang tua dan lingkungan, terutama orang tua dan lingkungan keluarga yang akhirnya bekerja sama dengan pendidik untuk lebih memperhatikan perkembangan anak," kata Ulfah dalam URtalks 'Darurat Perkosaan di Lingkungan Agamis' yang disiarkan langsung dari akun Instagram Urbanasia pada Kamis (16/12/2021).

Untuk itu, menurutnya sangat penting bagi pendidik transparan kepada orang tua siswa tentang apa yang terjadi pada anak. Sebab perkembangan anak bukan hanya tanggung jawab pendidik, melainkan orang tua murid.

"Karena pada dasarnya perkembangan anak tidak bisa di salah satu pihak saja," tegasnya.

Nah lalu bagaimana cara agar pendidik bisa menumbuhkan rasa kritis pada anak didiknya? Ulfah membagikan tiga tipsnya nih.

"Pertama yang bisa kita coba adalah dengan membangun attachment dengan anak, diawali dengan menghargai apapun yang mereka katakan dan pendapat mereka. Dari perasaan lebih dihargai itu, anak-anak akan lebih berani berbicara," kata Ulfah.

Namun perlu diperhatikan juga bahwa hal itu tak boleh menjadi kelekatan tertentu, seperti misalnya antara kyai dan santriwati. Sehingga menurutnya penting untuk membangun komunikasi yang imbang antara pendidik laki-laki dan perempuan.

"Itu yang harus diperhatikan. Jadi harus imbang komunikasinya antara pendidik laki-laki dan perempuan. Sehingga bisa dipantau apa yang kurang," imbuhnya.

Kedua, penting bagi pendidik memberikan pendidikan seks kepada muridnya sedini mungkin. Sebab kita tidak pernah tahu kekerasan dan pelecehan seksual akan terjadi kapan, di mana, dan kepada siapa.

"Pendidikan seks atau sex education itu penting banget dan harus ditanamkan sejak dini. Bahkan anak usia dini sudah diajari untuk mengerti bagian tubuh mana yang orang lain boleh melihat, dan siapa saja. Apakah orang lain yang tidak ada hubungan keluarga boleh, atau keluarga boleh? Namun justru kejadian-kejadian seperti ini justru datang dari orang terdekat," ungkap Ulfah.

"Itu yang sangat penting tapi tampaknya luput di pendidikan sekarang karena di kita sendiri obrolan-obrolan mengenai seksualitas itu masih dianggap tabu," sambungnya.

Terakhir, pendidik harus menciptakan hubungan yang setara dengan setiap orang tua murid. Dengan demikian, pendidik dan orang tua bisa bekerjasama untuk mendukung perkembangan anak ke arah yang baik.

"Dengan menciptakan hubungan yang setara dengan setiap ortu murid, pendidikan di sekolah dan di rumah bisa lebih setara dan mendukung satu sama lain," pungkasnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait