menu
user
URnews

Adaptasi Digital, UMKM Bangkit di Tengah Pandemi dengan Tokopedia

Anisa Kurniasih,
29 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Adaptasi Digital, UMKM Bangkit di Tengah Pandemi dengan Tokopedia
Image: Dok. Tokopedia

Jakarta - Pelaku UMKM berusaha untuk terus mempertahankan bisnisnya demi kelancaran roda ekonomi di tengah pandemi. Salah satu cara yang mereka lakukan ialah dengan beradaptasi melalui platform digital, salah satunya Tokopedia.

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada 2020 mencatat, 7 dari 10 pelaku usaha di Tokopedia mengalami kenaikan volume penjualan dengan median sebesar 133%.

Riset yang berjudul ‘Bertahan, Bangkit dan Tumbuhnya UMKM di Tengah Pandemi melalui Adopsi Digital’ itu membuktikan bahwa kolaborasi antara Tokopedia dan masyarakat telah memberikan dampak besar untuk perekonomian Indonesia saat pandemi.

Riset tersebut mengungkapkan tiga provinsi dengan peningkatan penjualan pelaku usaha tertinggi di Tokopedia guys, yaitu NTB (144,6%), Sulawesi Tengah (73,4%) dan Sulawesi Selatan (73,3%).

Sementara, tiga provinsi dengan peningkatan jumlah pelaku usaha tertinggi di Tokopedia selama pandemi adalah Bali (66,2%), Yogyakarta (42,2%) dan DKI Jakarta (28,3%).

Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia, Astri Wahyuni mengungkapkan, “Pandemi telah mempercepat transformasi digital di berbagai sektor.

Menurutnya, digitalisasi dan teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi telah berkembang pesat menjadi sebuah kebutuhan untuk menjawab tantangan pandemi.

“Tokopedia berkomitmen Selalu Ada Selalu Bisa untuk mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhan harian hingga menciptakan peluang lewat pemanfaatan teknologi khususnya di tengah pandemi,” ujar Astri dalam paparannya secara virtual, Rabu (24/3/2021).

1616650845-Tokopedia-1-2.jpgSumber: konferensi pers virtual Tokopedia Bertahan, Bangkit dan Tumbuhnya UMKM di Tengah Pandemi melalui Adopsi Digital’ (Tokopedia)

Sementara itu, kepala LPEM FEB UI, Riatu Mariatul Qibthiyyah menjelaskan, sebesar 68,6% penjual yang bergabung dengan Tokopedia pada saat pandemi merupakan pencari nafkah tunggal di keluarga.

“76,4% penjual mengatakan kemudahan mengelola bisnis menjadi alasan utama bergabung dengan Tokopedia. Saat pandemi pula, terdapat 90% penjual berskala mikro di Tokopedia,” ungkapnya.

Di sisi lain, Astri menuturkan, dari data internal Tokopedia, terdapat peningkatan jumlah penjual dari 7,2 juta sebelum pandemi Januari 2020 lalu menjadi lebih dari 10 juta penjual saat ini. Contoh pegiat usaha yang mengalami peningkatan penjualan saat pandemi adalah Bali Alus.

“Sejak pandemi, 80% penjualan kami berasal dari Tokopedia. Kenaikan penjualan selama pandemi mencapai hampir 3x lipat dibanding periode sebelum pandemi,” kata Pemilik Bali Alus, Ni Kadek Eka Citrawati.

Pandemi Ubah Pola Konsumsi Masyarakat

Belanja online semakin menjadi alternatif masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai. Menurut Riatu, rata-rata pengeluaran bulanan konsumen sebelum dan saat pandemi di Tokopedia meningkat 71%.

Riset LPEM FEB UI juga mengungkap juga bahwa transaksi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan kesehatan, hobi dan tagihan meningkat saat pandemi.

“Platform belanja online Tokopedia semakin diandalkan berbagai kalangan. Konsumen baru dari kalangan ibu rumah tangga, pelajar, mitra aplikasi online, wirausaha tanpa karyawan dan pekerja lepas meningkat di masa pandemi,” imbuh Riatu.

“Di Tokopedia sendiri, terdapat pertumbuhan jumlah pengguna aktif bulanan dari yang semula lebih dari 90 juta sebelum pandemi (Januari 2020) menjadi lebih dari 100 juta saat ini," tambah Astri.

Riset LPEM FEB UI di sisi lain menemukan bahwa e-wallet terverifikasi dan mobile/internet banking adalah dua produk keuangan yang paling banyak didaftarkan saat pandemi. Selain itu, transaksi melalui virtual account dan e-wallet juga banyak dipilih selama pandemi.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait