beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URstyle

Asal Usul Nama ‘Glodok’, Kawasan Pecinan Terbesar di Jakarta

Griska Laras,
4 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Asal Usul Nama ‘Glodok’, Kawasan Pecinan Terbesar di Jakarta
Image: Klenteng Jin De Yuan Glodok/Gunawan Kartapranata

Jakarta – Urbanreaders yang bermukim di Jakarta dan kota sekitarnya mungkin sudah tak asing dengan Glodok. Yap, kawasan pecinan terbesar di ibu kota ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. 

Glodok memiliki sejarah panjang dan menarik untuk dibahas, termasuk asal usul namanya. Meski identik dengan keturunan Tionghoa, nama Glodok ternyata bukan berasal dari bahasa Cina. 

Dalam buku ‘Betawi Queen of the East’ (2002) karangan Alwi Shahab, kata Glodok berasal dari ‘grojok’, onomatopi bunyi pancuran air. 

Dahulu, ada sebuah waterbaak yang dibangun di depan Museum Fatahilah, sekitar 3 km dari kawasan Glodok. Fungsinya untuk menampung air dari Kali Ciliwung. Waterbaak tersebut terbuat dari kayu dengan pancuran air setinggi 10 kaki. Dari sanalah bunyi ‘grojok-grojok’ berasal.   

Grojok ternyata cukup sulit diucapkan di lidah orang Tionghoa. Seiring berjalannya waktu, kata grojok berubah menjadi glodok seperti yang kita kenal sekarang ini. 

Saat ini, Glodok lebih dikenal sebagai pusat perniagaan, terutama barang-barang elektronik. Kawasan ini juga menyimpan ragam kuliner legendaris.

Gang Gloria dan Petak Sembilan adalah beberapa tempat yang wajib didatangi para pecinta kuliner di Glodok. Di tempat ini, wisatawan bisa menemukan berbagai kedai makanan khas Jakarta maupun Tionghoa yang sudah ada selama puluhan tahun, seperti  Kopi Es Tak Kie, Cempedak Goreng Cik Lina, hingga Kuotie Shantung Ling. 

Selain pusat wisata kuliner, kawasan ini juga memiliki bangunan bersejarah dengan arsitektur unik. Beberapa bangunan bahkan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, seperti Gereja Katolik Santa Maria de Fatima dan Kelenteng Toa Si Bio. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait