beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URstyle

Beda dengan COVID-19, Vaksin Cacar Monyet Diberikan Setelah Terpapar

Fitri Nursaniyah,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Beda dengan COVID-19, Vaksin Cacar Monyet Diberikan Setelah Terpapar
Image: Ilustrasi - Pemberian vaksin monkeypox atau cacar monyet. (Freepik)

Jakarta - Temuan kasus pertama cacar monyet di Indonesia membuat masyarakat panik meski Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengumumkan bahwa penyakit ini tak separah COVID-19.

Pemerintah juga telah melakukan banyak upaya untuk mencegah penyebaran cacar monyet, mulai dari penjagaan gerbang masuk ke Indonesia hingga rencana pengadaan 1.000 vaksin cacar monyet.

Terkait vaksin, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUI, dr. Anindia Larasati Sp.PD menjelaskan, vaksin cacar monyet berbeda dengan vaksin COVID-19 karena diberikan pada pasien yang sudah terpapar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum merekomendasikan pemakaian vaksin. Pihaknya menyebut bahwa vaksin tidak efektif 100 persen dalam keadaan apa pun.

Hal-hal yang disebutkan di atas membuat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dalam pedoman terbaru mereka, lebih menganjurkan masyarakat untuk berhati-hati agar tidak tertular cacar monyet.

Risiko terpapar virus penyebab cacar monyet bisa dilakukan dengan membatasi kontak fisik dengan siapa pun yang suspek cacar monyet, kontak fisik dengan hewan yang dapat terinfeksi, hingga rutin membersihkan lingkungan.

Untuk diketahui, cacar monyet adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan dari binatang. Virus ini dapat menular pada manusia ketika ada kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi.

Pasien cacar monyet hanya perlu melakukan isolasi mandiri ketika dikonfirmasi positif. Mereka dianjurkan melakukan isolasi sampai kulit baru muncul. Kemunculan lesi ini akan menjaga kamu menularkan virus ke orang lain.

Sebelumnya, Juru Bicara Kemenkes, Mohammad Syahril mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir atas penemuan kasus ini, lantaran gejalanya lebih ringan jika dibandingkan dengan COVID-19.

Ia juga mengatakan bahwa cacar monyet termasuk dalam golongan penyakit self limiting disease atau penyakit yang bisa sembuh sendiri.

"Cacar monyet ini tidak terlalu berat sakitnya, agar kita tenang, malah kalau kita bandingkan dengan COVID-19, ya, COVID-19 jauh beratnya, untuk itu kita tenang dengan maksud bahwasanya sebetulnya cacar monyet ini bisa sembuh sendiri, self limiting disease," ujar Syahril dalam konferensi pers pada Sabtu.

Lebih lanjut, Syahril menjelaskan bahwa masa inkubasi cacar monyet adalah 21-28 hari. Pasien akan sembuh dengan sendirinya jika tidak memiliki penyakit komorbid.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait