beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URstyle

Menkes Bandingkan Cacar Monyet dengan COVID-19, Mana Lebih Ganas?

Priscilla Waworuntu,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Menkes Bandingkan Cacar Monyet dengan COVID-19, Mana Lebih Ganas?
Image: Menkes Budi Gunadi Sadikin saat memberikan keterangan pers, Senin (09/05/2022) (Dok. Setkab)

Jakarta - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyarankan agar masyarakat tidak panik dan tetap tenang dalam menyikapi kasus perdana penyakit cacar monyet di Indonesia. Hal ini dikarenakan cacar monyet atau monkeypox tidak seganas COVID-19. 

“Cacar monyet sudah terjadi di dunia sebanyak 35 ribu kasus yang teridentifikasi positif. Pada saat yang sama, kasus COVID-19 jumlahnya sudah jutaan pada waktu yang sama,” ungkap Budi Gunadi dilansir ANTARA, Senin (22/08/2022). 

Menurut Budi, jika dibandingkan dengan penularan COVID-19, penularan cacar monyet jauh lebih sulit. Selain itu, penularan cacar monyet ini terjadi pada saat sudah bergejala, berbeda dengan COVID-19 yang tanpa gejala dan tiba-tiba bisa menular ke orang lain dengan imunitas yang lemah. 

Selain itu, seorang pasien cacar monyet memiliki gejala umum seperti adanya bintik dan bernanah, sehingga masyarakat juga bisa lebih berhati-hati. Jika belum ada bintik, maka cacar monyet ini belum menular, tetapi jika sudah ada bintik, maka masyarakat perlu waspada karena bisa saja tertular. 

Budi juga mengatakan bahwa cacar monyet ini bisa tertular karena adanya kontak fisik, berbeda dengan COVID-19 yang bisa menular hanya dari udara atau jatuhnya droplet dari pasien yang terjangkit. 

Selain itu, Budi meyakini bahwa masyarakat yang lahir sebelum era vaksinasi cacar di tahun 1980, kemungkinan besar memiliki tingkat antibodi yang lebih kuat dari masyarakat yang lahir setelah tahun itu. 

“Virus cacar monyet, vaksinasinya sampai 1980, dan itu berlaku seumur hidup. Untuk yang sudah lahir sebelum itu, harusnya masih terproteksi, mungkin tidak 100 persen,” pungkasnya.  

Budi juga menjelaskan bahwa orang yang terkena cacar monyet dan meninggal itu angkanya sangat kecil, tetapi jika pasien cacar monyet ini menggaruk bintik yang terdapat pada tubuhnya dan ditambah adanya bakteri, hal ini sangat memungkinkan pasien itu malah menjadi meninggal. Hal ini karena bakteri yang masuk akan menginfeksi jaringan paru dan otak. 

Menurut Budi saat ini ada dua tipe virus cacar monyet, yaitu berasal dari Afrika Barat dan Afrika Tengah. Nah salah satu dari virus ini ada yang bisa berakibat fatal dan yang satu lagi akan memberikan dampak yang ringan. Di Indonesia sendiri, cacar monyet yang terdetekski termasuk tidak fatal, karena sejauh ini pasien yang terkena baik-baik saja. 

Maka dari itu, untuk mencegah tertular dari cacar monyet, Budi mengimbau masyarakat untuk menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan, serta konsisten menjaga kebersihan. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait