Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URstyle

Dine in Hanya 20 menit Selama PPKM, Ini Bahaya Makan Bersicepat

Dyta Nabilah,
4 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Dine in Hanya 20 menit Selama PPKM, Ini Bahaya Makan Bersicepat
Image: Ilustrasi makan sehat. (Freepik)

Jakarta - Selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, terdapat aturan makan maksimal 20 menit di berbagai restoran, warung, dan semacamnya. Tujuannya agar tidak ada masyarakat yang berkumpul terlalu lama.

Aturan tersebut mendapatkan perhatian yang cukup besar dari masyarakat. Tentunya banyak pro dan kontra karena durasi yang diberikan terlalu cepat dan membuat pengunjung terburu-buru.

Dikutip dari The Guardian, menurut penelitian Dokter Ahli Jantung Yamaji dari Universitas Hiroshima di Jepang, pria maupun wanita yang punya kebiasaan makan terlalu cepat berisiko mengembangkan sindrom metabolik yakni kombinasi gangguan yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, stroke. 

Sebanyak 642 pria dan 441 wanita yang menjadi responden penelitian selama lima tahun, mereka dibagi menjadi tiga kategori yakni pemakan lambat, normal, dan cepat. 

1617697841-Ilustrasi-makan-bareng-rawpixel.jpgSumber: Ilustrasi makan bareng/Freepik by Rawpixel

Lalu, 11,6 persen pemakan cepat memiliki salah satu dari lima faktor risiko yakni obesitas sekitar lingkar pinggang, kadar lemak jahat tinggi, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kadar kolesterol 'baik' rendah.'

Ketika seseorang makan terlalu cepat, tubuh tidak mendapat kesempatan untuk memberikan informasi ke otak kalau sudah kenyang. 

Sementara itu, seseorang yang masuk kategori lambat dalam menghabiskan makanannya punya peluang 2,3 persen untuk mengembangkan sindrom metabolik. Jauh lebih rendah dibandingkan pemakan cepat. 

Sehingga penting untuk makan tidak terlalu cepat atau terburu-buru. Mengunyah lebih banyak bisa membantu mencerna makanan yang ada di mulut. Air liur memiliki enzim yang bisa menghaluskan makanan supaya lebih mudah dicerna.

Enzim tersebut memungkinkan indra perasa untuk "memperhatikan" makanan yang dikonsumsi. Seperti yang dikatakan oleh Dokter Takayuki, makan lebih lambat merupakan perubahan gaya hidup yang penting untuk cegah sindrom metabolik. Karena seseorang yang makan cepat akan cenderung makan berlebihan dan tidak merasa kenyang.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait