URedu

Berkat Mangrove, Petani Binaan Djarum Foundation Sarjanakan 6 Anaknya

Nivita Saldyni, Kamis, 24 November 2022 19.30 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Berkat Mangrove, Petani Binaan Djarum Foundation Sarjanakan 6 Anaknya
Image: Sururi, petani mangrove binaan BLDF di Desa Mangkang, Semarang. (Urbanasia/Nivita)

Semarang - Sururi, warga Desa Mangkang, Mangunharjo, Semarang Jawa Tengah tak pernah menyangka bakal jadi petani mangrove. Salah satu inisiator rehabilitasi ekosistem mangrove di garis pantai Desa Mangkang ini bercerita, perjalanannya terjun hadu petani dimulai sebelum tahun 2000.

Semua berawal ketika lingkungan di kampung halamannya itu rusak akibat abrasi. Bahkan saat itu harapan warga sekitar untuk memiliki tambak hancur karena seluruhnya hilang, termasuk milik Sururi. 

"Tahun 1995 lingkungan rusak. Dari rumah saya, mau ke laut itu pindah 700 meter. Nah saya prihatin," ujar Sururi kepada wartawan dalam acara media visit Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) ke Desa Mangkang pada Kamis (24/11/2022).

Sururi yang sempat putus asa dengan masalah ekonomi keluarganya pun mulai putar otak. Salah satunya sempat beralih jadi kuli bangunan demi menghidupi keluarga.

Kemudian pada tahun 2000-an, Sururi tergerak untuk melakukan penanaman. Ia memilih mangrove yang punya beragam manfaat di setiap bagian tubuhnya.

Meski sempat dapat cemoohan tetangga, Sururi konsisten melanjutkan aksinya. Terlebih sejak bekerja sama dengan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) di tahun 2008.

Sejak saat itulah, perlahan tapi pasti usaha Sururi mulai berbuah manis. Bahkan kini rehabilitasi ekosistem mangrove di garis pantai Desa Mangkang yang diinisiasinya telah memcapai hampir 80 hektar, dengan 27 jenis mangrove.

Bahkan, ekonomi keluarganya berangsung pulih dengan memanfaatkan mangrove secara maksimal sehingga bernilai ekonomis. Tak hanya memanfaatkan pembibitan, Sururi turut mengolah mangrove jadi makanan hingga mengolah limbahnya jadi pewarna batik. Hal ini rupanya memberikan dampak pada lingkungan, dan memberi peluang untuk membuk lapangan pekerjaan. 

"Sekarang usaha saya ini sudah usaha mandiri dengan support dari sponsor, salah satunya BLDF. Dan kelompok saya ini berisi 12 orang, lima di antaranya anggota keluarga sendiri dan tujuh lainnya dari luar. Saya sendiri selaku ketuanya," beber Sururi. 

"Nah ke depannya yang melanjutkan anak nomer enam karena usia saya sudah tidak muda lagi, sudah masuk kepala enam," sambungnya. 

Berkat konsistensi dan ketekunannya, Sururi bersama kelompok taninya berhasil menjual lebih dari 10 ribuan bibit setiap bulannya. Dari penjualan itu, mereka mampu mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 2 juta setiap bulannya.

"Saya berhasil bisa menyekolahkan enam anak saya sampai jenjang S1 dan dua di antaranya S2. Alhamdulillah itu berhasil salah satunya berkat dukungan BLDF," pungkasnya. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait