URstyle

Flash pada Film ‘Pengabdi Setan 2’ Picu Epilepsi Fotosensitif, Benarkah?

Priscilla Waworuntu, Senin, 15 Agustus 2022 13.38 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Flash pada Film ‘Pengabdi Setan 2’ Picu Epilepsi Fotosensitif, Benarkah?
Image: Ilustrasi - Studio Bioskop dengan Lampu Flash. (Pixabay)

Jakarta- Masyarakat Indonesia, terutama orang-orang yang sudah menonton 'Pengabdi Setan 2: Communion' menjadi heboh belakangan ini. Bukan karena kengerian akibat horornya film tersebut, melainkan banyaknya flash light yang ditampilkan dalam film garapan Joko Anwar itu. 

Bahkan, muncul desakan hingga petisi agar pihak bioskop memberikan pengingat bagi calon penonton bahwa film itu menampilkan banyak flash light. Hal ini karena flash disebut-sebut bisa memicu gejala epilepsi fotosensitif.

Apa Itu Epilepsi Fotosensitif?

Epilepsi fotosensitif adalah suatu kondisi kejang yang dipicu oleh kilatan cahaya atau flash serta pola terang dan gelap yang sangat mencolok. 

Efek berkedip atau berpola tersebut dapat membuat orang dengan atau tanpa epilepsi pun akan merasa tidak nyaman.

Sekitar 5 persen orang dengan epilepsi memiliki kepekaan yang meningkat terhadap kilatan cahaya atau pola cahaya yang berubah dengan cepat. 

Melansir NHS, kondisi tersebut sering kali menyerang anak antara usia 7 sampai 19 tahun. Meski kasusnya terbilang jarang, biasanya epilepsi fotosensitif lebih sering memengaruhi anak perempuan daripada laki-laki.

Pemicu Utama Epilepsi Fotosensitif

Pemicu utama epilepsi fotosensitif adalah cahaya yang sering muncul. Nah cahaya tersebut umumnya berasal dari hal-hal berikut:

  • Layar TV, komputer, ponsel, atau bioskop
  • Lampu yang berkedip-kedip, seperti lampu sorot, lampu disko, atau lampu neon yang rusak.
  • Cahaya terang atau pantulan, seperti sinar matahari yang dipantulkan dari cermin atau jendela.
  • Warna atau pola kontras tinggi, seperti garis dan titik.
  • Cahaya yang masuk dalam sela-sela penutup jendela seperti kerai.

Benda bergerak juga dapat memicu kejang, seperti eskalator, kipas di langit-langit, dan baling-baling, termasuk baling-baling helikopter.

Faktor Lain Pemicu Epilepsi Fotosensitif

Selain pemicu-pemicu utama tersebut, epilepsi fotosensitif ini juga bisa muncul karena kondisi penderitanya. Berikut beberapa kondisi tersebut:

  • Kondisi mata saat stimulus terjadi.
  • Kontras dan kecerahan warna atau cahaya.
  • Kecepatan dan frekuensi gerakan atau pola, biasanya 8-30 kedipan per detik dapat meningkatkan risiko kejang.
  • Jarak dari pemicu atau cahaya.
  • Warna pemicunya, cahaya warna merah bisa lebih merangsang daripada biru.

Cara Mengatasi Epilepsi Fotosensitif

Melansir Health Line, epilepsi fotosensitif ini bisa diatasi dengan mengonsumsi obat untuk mengontrol kejang penderitanya. Salah satu obat yang direkomendasikan adalah Valproate.

Selain mengonsumsi obat, epilepsi fotosensitif juga bisa diatasi dengan penanganan dokter jika kejang yang timbul cenderung parah. Berikut beberapa ciri kejang para tersebut:

  1. Mengalami kejang lebih dari 3 menit.
  2. Tidak bangun setelah kejang.
  3. Mengalami kejang berulang.
  4. Sedang hamil dan mengalami kejang.

Nah itu dia uraian singkat mengenai apa itu epilepsi fotosensitif, berikut pemicu dan cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait