Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Ingin Segera PTM, Nadiem Makarim Akui Sudah 8 Bulan Sering Banting Meja

Griska Laras,
26 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Ingin Segera PTM, Nadiem Makarim Akui Sudah 8 Bulan Sering Banting Meja
Image: Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim. (Dok. Humas Kemendikbud)

Jakarta - Menteri Pendidikan Budaya Ristek dan Teknologi, Nadiem Makarim, tak bisa menahan kekesalannya saat meninjau sekolah-sekolah di berbagai daerah di Indonesia.  

Nadiem mengaku sudah delapan bukan marah-marah, bahkan sampai membanting meja begitu tahu ada sekolah yang tidak beroperasi karena tidak ada akses internet.

"Sudah 8 bulan saya terus banting-banting meja terus pergi ke berbagai daerah untuk segera melakukan PTM (pembelajaran tatap muka terbatas)," kata Nadiem di acara Bangkit Bareng, Selasa (28/9/2021).

"Saya suka marah kalau ada beberapa daerah yang mungkin koneksi internet tidak ada, gawai tidak ada, dan sekolah itu diperbolehkan melakukan PJJ. Artinya sama saja dengan tidak sekolah," lanjut Nadiem.

Jika sekolah atau murid tidak bisa melakukan kegiatan PJJ, ya harusnya dicarikan solusi seperti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas sejak awal pandemi.

Nadiem memaparkan, saat ini sudah ada 40 persen sekolah yang melakukan PTM dengan protokol kesehatan ketat. Tapi menurutnya angka ini masih terbilang kecil dibandingkan negara-negara lain.

"Alhamdulillah saat ini sekitar 40 persen sekolah sudah tatap muka tapi itu angka yang masih kecil, jadi kalau kita tidak ingin tertinggal ya kita harus gelar pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan ketat," katanya.

Dalam acara tersebut, Nadiem juga mengimbau agar sekolah membuka kembali kegiatan pembelajaran tatap muka seperti yang telah diatur dalam SKB 4 menteri.

"Semua peraturan dan SOP sudah jelas tinggal ikuti SKB 4 menterinya. Tidak zaman lagi menutup sekolah, kecuali jika ada penularan. Tapi kemungkinan masih kecil".

Dia juga memberi sekolah opsi untuk menerapkan kurikulum darurat selama pandemi.

"Kita kasih opsi pakai kurikulum darurat. Jadi secara spesifik tidak lebih ketinggalan. Ternyata 36 persen sekolah pakai kurikulum ini," pungkas Nadiem. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait