beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URnews

Kebahagiaan Otentik Masyarakat Jejaring

Firman Kurniawan S,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Kebahagiaan Otentik Masyarakat Jejaring
Image: Ilustrasi main media sosial. (Pixabay/YashilG)

HARI ini orang mencari kebahagiaan dan menjauhi rasa sepi dengan mengakses media sosial. Sayangnya, alih-alih terobati dari sepi, mereka justru mendapat rasa tak nyaman, apalagi aman. Gambaran ini terkonfirmasi lewat hasil penelitian Microsoft, yang dipublikasi, sekitar Maret 2021. 

Dari penelitian ini diperoleh posisi keberadaban Indonesia ada di tingkat ke-29, dari 32 negara yang diteliti. Posisi terendah dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya. Variabel keberadaban dinilai dari sikap orang terhadap hoaks, perundungan, diskriminasi, ujaran kebencian dan keamanan data. Jika disusun sebagai kalimat, relasi media sosial di Indonesia itu digambarkan sebagai memasuki jagat yang akan membawa pada risiko, ‘mengalami rasa sakit yang tak tertahankan’. 

Artinya, manakala orang sedang berusaha meraih kebahagiaan dengan mengakses media sosial, yang diperoleh justru risiko terpapar hoaks, jadi korban perundungan, mengalami diskriminasi, terjebak dalam pusaran kebencian atau identitasnya dimanfaatkan pihak lain, untuk memperoleh keuntungan secara tidak sah. Sebuah rasa sakit yang tak terbantahkan.    

Surut ke belakang, mengikuti uraian Manuel Castells (1996) dalam buku The Rise of Network Society, pemanfaatan mikro elektronik yang massif mendorong perubahan bentuk masyarakat. Masyarakat berubah jadi berjejaring. Implikasi yang nyata dirasakan masyarakat kontemporer saat ini, berupa makin cepatnya aliran informasi yang menyebabkan terjadinya penyeragaman persepsi atas suatu peristiwa. Suatu rentetan yang cenderung menyeragamkan rasionalitas maupun emosi, mengubah manusia jadi tak otentik pada dirinya sendiri. 

Manusia di hadapan teknologi, terpabrikasi persepsi, selera, pilihan maupun perilakunya, identik dengan jejaring. Walaupun, menurut Jacguelyn Bulao (2022) dalam artikel yang dimuat Techjury.net: How Much Data is Created Everyday in 2022?, terdapat 1,145 triliun MB data perhari, namun dalam realitasnya, rasionalitas dan emosi orang terpusat pada trending topic maupun peristiwa yang viral. 

Hari ini selera tontonan Orang Indonesia terpusat Pengabdi Setan 2 Communion, dan wacana pembicaraannya di seputar ‘Penembakan Brigadir Yoshua’. Sedangkan masyarakat dunia disibukkan oleh penggerebekan tempat tinggal Donald Trump oleh FBI atau perbincangan tentang Perang Rusia vs Ukraina yang mencapai hari ke-169. Informasinya berlimpah, namun temanya terbatas. Ini menggiring manusia jadi seragam, pikiran maupun perasaannya.       

Lalu bagaimana dengan kebahagiaan? Masihkah terbentuk dari relung-relung emosi individual yang privat, atau turut terpabrikasi, tunduk pada kebahagiaan jejaring?

Sebuah buku penuh renungan namun disajikan secara kocak tentang kebahagiaan, ditulis oleh Eric Weiner pada tahun 2008. Judul Aslinya, The Geography of Bliss. Weiner, yang seorang jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat, mencoba menelusuri kebahagiaan dengan tak berupaya mendefinisikan kebahagiaan. Ia mencari kebahagiaan berdasarkan geografis: di mana sekumpulan orang bertempat tinggal. Apakah kebahagiaan itu ada di Swiss, negara yang tak memiliki angkatan bersenjata, karena demokratis dan cinta damai? Atau kebahagiaan ada di Bhutan, yang rajanya berinisiatif mengukur indeks kebahagiaan berdasar gross national happiness? Raja ini kemudian berupaya mewujudkan kebahagiaan warga negaranya berdasar indikator dari perangkat yang digagasnya. 

Atau adakah bahagia di Belanda, negara yang mengijinkan prostitusi dan penggunaan narkoba di lingkungan privat? Atau jika kebahagiaan disebabkan oleh kekayaan, apakah itu di Qatar, negara kaya minyak yang bergelimang uang dari ekspor tambangnya itu? Dari perjalanan Weiner hingga ke Amerika bahkan India, ia mendapati kebahagiaan ada di mana saja. Ia hadir dengan caranya yang berbeda-beda.

Apa yang disimpulkan Weiner, sesuai dengan hasil penelitian Harvard University, yang dibahas Matthew Solan (2021) dalam artikelnya Health and Happiness Go Hand in Hand. Fakta dari penelitian ini menunjukkan 50 persen kebahagiaan orang ditentukan oleh susunan genetikanya, 40 persen dalam pengendalian dirinya, dan 10 persen dipengaruhi oleh keadaan. Ini artinya, orang yang secara genetika cenderung tak bahagia, punya peluang hampir separuh bagian untuk mencapai kebahagiaan dengan melakukan pengendalian diri. Termasuk pengendalian dalam penggunaan media sosialnya.

Berbagai hasil penelitian dalam kategori problematic social media use (PSMU), termasuk yang dilakukan Jiewen Zhang, Claudio Marino dan Alessioa Vieno, yang terpublikasi tahun 2022, dalam The Effect of Problematic Use on Happines among Adolescents: The Mediating Role of Lifestyle Habits, mengkonfirmasi penggunaan media sosial yang cenderung merusak kebahagiaan. 

Namun sebelumnya, bagi para peneliti ini konsep ‘penggunaan media sosial’ dengan ‘kebahagiaan’, merupakan 2 hal yang tak jelas duduk perkara keterkaitannya. Tak terlihat jalinan logisnya. Karenanya, lalu para peneliti menelusuri hubungan keduanya, dengan memasukkan konsep ‘intensitas penggunaan’, ‘turunnya waktu tidur’ dan ‘kesejahteraan’. 5 Konsep yang kemudian diterjemahkan sebagai varibel penelitian ini, disusun dalam kerangka analisis jalur. Melalui jalur seperti apakah, penggunaan media sosial dapat menurunkan kebahagiaan? Demikian bangunan penelitiannya. 

Hasilnya, penggunaan intensif perangkat digital yang kemudian menimbulkan adiksi ini, pada gilirannya mengurangi jumlah jam tidur bagi para penggunanya. Pengguna yang adalah sekelompok pelajar Italia ini, membutuhkan keseimbangan antara kegiatan aktifnya dengan sejumlah jam tidur. Manakala jumlah jam tidur signifikan berkurang, berbagai persoalan kesejahteraan muncul. Inilah yang jadi pangkal turunnya kebahagiaan. 

Penelitian-penelitian PSMU lainnya, mengungkap munculnya problem ketakbahagiaan oleh penggunaan media sosial. Ketakbahagiaan muncul akibat perilaku membandingkan diri dengan unggahan pihak lain, tanpa adanya interaksi. Tindakan ini menimbulkan tekanan hingga depresi: ‘hidup saya, tak lebih hebat dari hidup orang yang saya perhatikan’. Selain komparasi, sikap yang kerap muncul adalah FOMO, fear of missing out. Gangguan eksistensial ini, terpicu oleh kekhawatiran ketinggalan informasi terkini, utamanya obyek unggahan yang jadi pembicaraan orang banyak. Dalam keadaan ini seseorang wajib memperbaharui informasi terus menerus. Tanpanya, seakan  dunia berhenti berputar. 

Meraih kebahagiaan otentik, dengan mengikuti persentase yang diungkapkan Harvard University, kuncinya pengendalian diri. Ini bahkan dapat diraih, pada masyarakat yang mampu mempabrikasi kebahagiaan jejaring -yang tentu saja juga mampu memproduksi ketakbahagiaan secara massal- akibat niscayanya penggunaan media sosial. 

Pengendalian diri yang dimaksud adalah penggunaan media sosial menurut otentisitas  masing-masing orang. Interaksi bukan demi panen like apalagi adsense. Penggunaannya bertujuan membangun saling paham, setidaknya memperluas jejaring produksi dan distribusi konten yang baik. Merespons unggahan pihak lain, jadi sarana dialog yang bermanfaat, terlebih saat ada kebutuhan untuk mengkofirmasi. Konsumsi konten demi pembaruan informasi, bukan komparasi. 

Konsep pengendalian diri di atas, sesuai pikiran Castells -merujuk buku yang telah disebut di atas-, sebagai diraihnya identitas proyek. Identitas proyek adalah identitas otentik, alternatif bagi identitas terlegitimasi. Identitas terlegitimasi membutuhkan alternatif, sebab meletakkan orang terdefinisi mengikuti kehendak jejaring. Ini artinya, terjadi pabrikasi perilaku, mengikuti kumpulan selera orang banyak. Termasuk pabrikasi dalam meraih kebahagiaan. Lewat identitas proyek, orang mendefinisikan dirinya termasuk dalam memanfaatkan media sosial untuk meraih kebahagiaan. 

Meraih identitas proyek, ditempuh tanpa perlu meniadakan identitas terlegitimasi. Kongkritnya, walaupun yang digunakan adalah perangkat digital global, namun cara penggunaaannya menurut masing-masing orang. Produksi, distribusi maupun cara konsumsi konten, tak perlu ikut aturan orang lain, apalagi selera pasar.  

Dengan identitas proyek, orang bertindak otentik menurut tafsirnya. Pada gilirannya, ini bakal memunculkan aneka pola penggunaan media sosial. Keotentikan yang menjadikan perangkat naik nilainya, terlebih ketika negara mengakui, akun media sosial bisa jadi jaminan utang di bank. Tentu membahagiakan.

**) Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital

**) Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis, bukan pandangan Urbanasia

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait