menu
user
URnews

Kemenhub dan Satgas COVID-19 Ungkap Alasan Mudik 2021 Dilarang

Nivita Saldyni,
14 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Kemenhub dan Satgas COVID-19 Ungkap Alasan Mudik 2021 Dilarang
Image: Adita Irawati (tengah) dan Iwan Ariawan (kanan) dalam talkshow 'Mengapa Mudik Dilarang? Pengaruh Pergerakan Penduduk Terhadap Pengendalian COVID-19', Selasa (6/4/2021). (YouTube BNPB Indonesia)

Jakarta - Urbanreaders, mungkin banyak yang kecewa dan sedih karena pemerintah kembali melarang mudik lebaran di tahun ini. Namun ternyata kebijakan ini dikeluarkan dengan berbagai pertimbangan loh.

Alasan pemerintah mengeluarkan kebijakan ini pun sempat dibahas oleh Adita Irawati, Staf Khusus Menteri Perhubungan dan Iwan Ariawan, Tim Pakar Satgas COVID-19 yang merupakan ahli Biostatistik dari FKM UI dalam talkshow 'Mengapa Mudik Dilarang? Pengaruh Pergerakan Penduduk Terhadap Pengendalian COVID-19' yang disiarkan langsung lewat channel YouTube BNPB Indonesia, Selasa (6/4/2021).

Tren Lonjakan Kasus Setelah Libur Panjang

Menurut Iwan, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah transmisi COVID-19. Salah satunya yaitu dengan menerapkan 3T dan 3M, serta vaksinasi. Namun itu saja tak cukup, perlu ada kebijakan tegas untuk mengatur pergerakan orang. Apalagi jika melihat tren kasus sepanjang 2020 lalu yang selalu ada lonjakan kasus COVID-19 setelah libur panjang.

"Kalau ada libur panjang, bukan libur panjangnya yang bermasalah karena libur panjang memicu orang untuk bergerak dan itu akan diikuti kenaikan kasus COVID-19 nya," kata Iwan, seperti dikutip Urbanasia pada Rabu (7/4/2021).

Hal ini pun juga diungkapkan oleh Adita Irawati yang merupakan Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Ia mengatakan bahwa data Kemenhub menunjukkan selalu ada lonjakan arus penumpang, baik pada transportasi umum dan kendaraan pribadi setiap kali ada libur panjang.

Seperti misalnya yang terbaru pada libur paskah beberapa waktu lalu. Laporan PT Jasa Marga menyebutkan ada 350 ribu kendaraan pribadi yang melewati tol selama libur paskah. Belum lagi, Angkasa Pura I dan II juga melaporkan ada lonjakan penumpang sebesar 39,8 persen.

“Memang harus diakui bahwa setiap libur panjang itu mendorong masyarakat untuk bermobilitas,” kata Dita.

“Jadi memang harus kita akui selalu ada fenomena lonjakan mobilitas orang ketika terjadi liburan panjang," imbuhnya.

Pergerakan Orang yang Masif Meningkatkan Potensi Penularan

Kendati demikian, Dita mengaku pihaknya tak pernah lelah mengimbau masyarakat untuk jangan melakukan mobilitas dulu jika tidak ada keperluan mendesak. Apalagi jika berkaca dari pengalaman tahun lalu dan data terbaru dari Satgas COVID-19 terkait kondisi pandemi di berbagai wilayah, maka sebenarnya jelas mengapa akhirnya mudik lebaran dilarangan.

“Intinya begini, mudik ini kan pergerakan orang secara masif dari satu daerah ke daerah lain dan umumnya dari Jabodetabek ke Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, ke arah timur ya. Ya kita sama-sama tahu di daerah-daerah ini kan situasinya juga masih belum cukup baik. Jadi potensi untuk terjadinya penularan karena perpindahan orang secara masif ini kan akan sangat tinggi," jelas Dita.

Dengan adanya kebijakan pelarangan mudik ini, menurut Dita tentu akan menbantu Indonesia untuk segera mengendalikan COVID-19 lebih baik lagi. Apalagi, kata Dita, kegiatan belajar tatap muka bakal segera dilaksanakan beberapa bulan ke depan.

"Apalagi ada rencana ke depan kan kalau saya dapat informasi bahwa pemerintah juga akan memulai kegiatan belajar tatap muka. Ini yang kalau kemudian angkanya tidak membaik bisa saja ini kita tunda," pungkasnya. 

"Kami di Kementerian Perhubungan selalu berkomitmen untuk menyediakan transportasi yang berkesehatan dan berkeselamatan. Tapi ini tentu juga harus didukung oleh masyarakat yang jika tidak ada kepentingan yang sangat mendesak atau bisa ditunda dulu, jangan dulu melakukan perjalanan apalagi dalam situasi yang memungkinkan banyak orang atau secara masif juga bergerak," lanjut Dita.

Menurutnya larangan mudik ini harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat atas konsekuensi bahwa pergerakan masif saat ini bukanlah sesuatu yang menguntungkan. 

"Jadi sekali lagi kami juga ingin punya kontribusi agar pandemi ini segera membaik dan kami secara infrastruktur menyediakan transportasi yang sudah memenuhi protokol kesehatan tapi masyarakat pun juga tetap harus timbul kesadaran bahwa bergerak secara masif saat ini masih belum sesuatu hal yang menguntungkan untuk kita semua. Sehingga lebih baik jangan ke mana-mana dulu," pesannya.

Alasan utama mudik dilarang

Sementara itu Iwan mengatakan ada tiga alasan utama mengapa mudik dilarang nih, guys. 

"Kenapa kita tidak mudik? Satu untuk mengurangi kita dan keluarga terinfeksi COVID-19. Kedua adalah untuk mengurangi risiko orang-orang di sekitar kita untuk terinfeksi COVID-19. Ketiga adalah untuk kita bersama-sama cepat menangani pandemi COVID-19 di Indonesia ini supaya kita bisa memajukan Indonesia ini, ekonomi kita bisa segera bergerak ke arah yang lebih baik," tutupnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait