beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URstyle

Lansia di Kota Cilegon Suspek Cacar Monyet

William Ciputra,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Lansia di Kota Cilegon Suspek Cacar Monyet
Image: Ilustrasi - Ruam pada penderita cacar monyet. (iStock)

Jakarta - Seorang warga berinisial Y berusia 60 tahun dilaporkan menjadi suspek cacar monyet alias monkeypox. Hal ini berawal dari laporan Puskesmas Pulomerak, Kota Cilegon, Banten. 

Kepala Puskesmas Pulomerak, Isnayati menerangkan, Y awalnya mengeluhkan ada bintik-bintik seperti cacar monyet. Selain itu, ia juga mengeluh sakit kepala, nyeri otot, hingga sakit punggung. 

“Keluhan-keluhan tersebut hampir mirip seperti cacar monyet,” kata Isnawati dalam pernyataan yang dikutip Kamis (11/8/2022). 

Isnawati menuturkan, awalnya Y datang ke puskesmas pada Senin, 8 Agustus 2022 dengan keluhan tersebut. Curiga keluhannya mirip cacar monyet, tim medis langsung melakukan prosedur pemeriksaan kepada Y. 

Pihak puskesmas kemudian mengambil sampel PCR khusus cacar monyet kepada Y dan keluarga dekatnya. Semua sampel sudah dikirim ke Labkesda Provinsi Banten dan tinggal menunggu hasil. 

“Semua sedang kami pantau, kami juga telah mengambil sampel spesimen ke pihak keluarganya. Ini kita lakukan agar tidak menyepelekan penyakit ini,” tegasnya. 

Isnawati turut mengimbau kepada masyarakat agar memeriksakan diri jika merasakan keluhan seperti muncul bintik di kulit, pusing, hingga sakit punggung. 

Sebelumnya, suspek cacar monyet juga ditemukan di Jawa Tengah. Namun hasil pemeriksaan cairan lesi kulit pada suspek itu dinyatakan negatif pada Sabtu, 6 Agustus 2022. 

Ketua Satuan Tugas Monkeypox Pengurus Besar IDI Dokter Hanny Nilasari menjelaskan prosedur diagnosis dilakukan dalam dua tahapan, PCR swab orofaring dan tes uji cairan lesi kulit. 

Hanny menyebut uji cairan lesi kulit memiliki sensitivity rate dan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan tes orofaring.

“Jadi untuk menegakkan diagnosis cacar monyet, ada dua tahapan tes, swab orofaring dan uji sampel lesi di kulit. Kalau dibandingkan orofaring dengan uji cairan lesi untuk memastikan statusnya. Hal ini karena uji sampel cairan lesi lebih akurat dibandingkan PCR swab orofaring,” jelas Hanny. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait