Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URguide

Mengenal Kanker Usus Besar, Penyakit Chadwick Boseman Selama 4 Tahun

Nunung Nasikhah,
lebih dari 1 tahun yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Mengenal Kanker Usus Besar, Penyakit Chadwick Boseman Selama 4 Tahun
Image: Ilustrasi penyakit kanker. (Pixabay)

Jakarta – Aktor pemeran Raja T'Challa dalam film Marvel garapan Ryan Coogler ‘Black Panther’, Chadwick Boseman meninggal karena telah mengidap colon cancer atau kanker usus besar selama empat tahun.

Melansir informasi dari Mayoclicic (29/8/2020), kanker usus besar adalah jenis kanker yang dimulai di usus besar, bagian akhir dari sistem saluran pencernaan manusia.

Kanker usus besar kadang disebut kanker kolorektal, yaitu istilah yang menggabungkan kanker usus besar dan kanker rektal, yang dimulai di rektum.

Kanker usus besar biasanya menyerang orang dewasa yang lebih tua, meskipun bisa terjadi pada usia berapa pun.

Penyakit ini umumnya dimulai dari gumpalan kecil non-kanker (jinak) yang disebut polip dan terbentuk di bagian dalam usus besar. Beberapa polip ini bisa menjadi kanker usus besar.

Polip ini memang berukuran kecil dan biasanya tidak memunculkan gejala di awal. Untuk itu, dokter merekomendasikan tes skrining rutin untuk membantu mencegah kanker usus besar dengan mengidentifikasi dan menghilangkan polip sebelum berubah menjadi kanker.

Nah, jika polip tersebut kemudian berkembang menjadi kanker usus besar, banyak perawatan untuk mengendalikan penyakit ini, termasuk operasi, terapi radiasi, dan perawatan obat, seperti kemoterapi, terapi bertarget, dan imunoterapi.

Ada beberapa tanda atau gejala yang timbul dari kanker usus besar ini. Seperti adanya dalam kebiasaan buang air besar, termasuk diare atau sembelit atau perubahan konsistensi tinja.

Gejala lain seperti pendarahan rektal atau darah di tinja, rasa tidak nyaman di perut yang terus-menerus, seperti kram, gas, atau nyeri, hingga terasa bahwa usus tidak kosong sepenuhnya.

Selain itu, penderitanya juga merasa lemah dan sering lelah, bahkan juga mengalami penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan.

Meski demikian, banyak penderita kanker usus besar tidak mengalami gejala pada tahap awal penyakit. Ketika gejala muncul, kemungkinan besar akan bervariasi, tergantung pada ukuran dan lokasi kanker di usus besar.

Secara umum, kanker usus besar dimulai ketika sel-sel sehat di usus besar mengalami perubahan (mutasi) pada DNA mereka. DNA sel berisi serangkaian instruksi yang memberi tahu sel apa yang harus dilakukan.

Sel-sel sehat tumbuh dan membelah secara teratur agar tubuh manusia tetap berfungsi normal. Tetapi ketika DNA sel rusak dan menjadi kanker, sel terus membelah, bahkan ketika sel baru tidak diperlukan. Saat sel menumpuk itu lah mereka akan membentuk tumor.

Seiring waktu, sel kanker dapat tumbuh, menyerang dan menghancurkan jaringan normal di sekitarnya. Sel kanker tersebut dapat melakukan perjalanan ke bagian tubuh lain untuk membentuk endapan di sana (metastasis).

Sementara itu, risiko kanker usus besar ini lebih rentan pada orang berusia yang lebih tua. Kanker usus besar memang dapat didiagnosis pada semua usia, tetapi mayoritas orang dengan kanker usus besar berusia di atas 50 tahun.

Di samping itu, ras Afrika-Amerika juga memiliki risiko lebih besar terkena kanker usus besar daripada orang dari ras lain.

Orang yang pernah menderita kanker usus besar atau polip usus besar non-kanker juga memiliki risiko lebih besar terkena kanker usus besar di masa mendatang.

Begitu juga bagi mereka yang menderita penyakit inflamasi kronis pada usus besar, seperti kolitis ulserativa dan penyakit Crohn, juga dapat meningkatkan risiko kanker usus besar.

Tak hanya itu, beberapa mutasi gen yang diturunkan dari generasi ke generasi juga dapat meningkatkan risiko kanker usus besar secara signifikan.

Sindrom bawaan paling umum yang meningkatkan risiko kanker usus besar adalah poliposis adenomatosa familial (FAP) dan sindrom Lynch, yang juga dikenal sebagai kanker kolorektal nonpolyposis herediter (HNPCC).

Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit kanker usus besar juga lebih mungkin terkena kanker usus besar. Jika lebih dari satu anggota keluarga menderita kanker usus besar atau kanker rektal, risikonya bahkan lebih besar.

Kanker usus besar juga dapat dikaitkan dengan pola makan khas Barat, yang rendah serat dan tinggi lemak dan kalori. Beberapa penelitian menemukan peningkatan risiko kanker usus besar pada orang yang mengonsumsi makanan tinggi daging merah dan daging olahan.

Selain itu, orang yang tidak aktif lebih mungkin terkena kanker usus besar. Melakukan aktivitas fisik secara teratur kabarnya dapat mengurangi risiko kanker usus besar, loh.

Orang yang mengalami obesitas juga memiliki peningkatan risiko kanker usus besar dan peningkatan risiko kematian akibat kanker usus besar jika dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan normal.

Begitu pula dengan orang berpenyakit diabetes atau resistensi insulin, memiliki peningkatan risiko kanker usus besar.

Orang yang merokok dan mengonsumsi alkohol secara berlebihan juga mungkin memiliki peningkatan risiko kanker usus besar.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait