menu
user
URnews

PBB Sebut Aksi Protes di Myanmar Tewaskan Lebih dari 50 Orang

Kintan Lestari,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
PBB Sebut Aksi Protes di Myanmar Tewaskan Lebih dari 50 Orang
Image: Aksi protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, Selasa (2/3/2021). Gambar diambil dari balik jendela. (ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/rwa.)

Naypyitaw - Masyarakat Myanmar sampai saat ini masih terus melangsungkan aksi unjuk rasa menentang pemerintahan militer junta.

Aksi protes yang dilakukan seluruh kelompok masyarakat itu pun memakan korban jiwa. 

Utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, menyebut aksi protes yang berlangsung kemarin (3/3/2021) merupakan 'hari paling berdarah' sejak kudeta militer 1 Februari. Pasalnya protes kemarin menewaskan 38 orang.

"Hari ini, itu adalah hari paling berdarah sejak kudeta terjadi pada 1 Februari," kata Schraner Burgener di New York, seperti dikutip ABC News, Rabu (3/3/2021). 

"Kami memiliki hari ini - hanya hari ini - 38 orang tewas. Kami sekarang memiliki lebih dari 50 orang tewas sejak kudeta dimulai, dan banyak yang terluka," ucapnya lagi.

Dari 38 korban tewas dalam aksi protes hari Rabu, badan bantuan Save the Children melaporkan empat korban di antaranya adalah anak-anak. Sehingga total korban sudah lebih dari 50 orang. Media lokal juga melaporkan kalau ratusan pengunjuk rasa ditangkap.

Schraner Burgener mengatakan dia sudah memperingatkan wakil kepala militer Myanmar, Soe Win, bahwa militer kemungkinan besar akan menghadapi tindakan keras dari beberapa negara dan isolasi sebagai pembalasan atas kudeta tersebut.

"Jawabannya adalah: 'Kami terbiasa dengan sanksi, dan kami selamat'," sebutnya kepada wartawan. 

“Ketika saya juga memperingatkan mereka akan masuk (ke) isolasi, jawabannya adalah: 'Kita harus belajar berjalan hanya dengan sedikit teman',” lanjutnya lagi.

Saksi mata mengatakan kalau polisi dan tentara melepaskan tembakan peluru tajam dengan sedikit peringatan.

Hari berdarah tersebut terjadi satu hari setelah negara-negara tetangga menyerukan pengekangan usai militer menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi.

"Mengerikan, ini pembantaian. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan situasi dan perasaan kami," ujar aktivis pemuda Thinzar Shunlei Yi kepada Reuters, Kamis (4/3/2021).

Hari ini (4/3/2021) aktivis pro-demokrasi Myanmar berjanji mengadakan lebih banyak demonstrasi.

"Kami tahu bahwa kami selalu bisa ditembak dan dibunuh dengan peluru tajam tapi tidak ada artinya tetap hidup di bawah junta jadi kami memilih jalan berbahaya ini untuk melarikan diri," jelas aktivis Maung Saungkha kepada Reuters.

“Kami akan melawan junta dengan cara apapun yang kami bisa. Tujuan akhir kami adalah untuk menghapus sistem junta dari akarnya," tambah Maung Saungkha.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait