beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URnews

Peringati Kematian Sang Ayah, Kim Jong Un Larang Warga Korea Utara Tertawa

Shelly Lisdya,
17 Desember 2021 09.27.23 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Peringati Kematian Sang Ayah, Kim Jong Un Larang Warga Korea Utara Tertawa
Image: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara pada Sidang Pleno ke-5 Komite Pusat ke-7 Partai Buruh Korea (WPK) pada foto tanpa tanggal yang dirilis Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA), Minggu (29/12/2019). (ANTARA/REUTERS/KCNA)

Jakarta - Dalam mengenang satu dekade meninggalnya Kim Jong Il, warga Korea Utara dilarang merusak susasana duka, termasuk tertawa atau minum alkohol selama 11 hari.

Otoritas pemerintah Kim Jong Un telah memerintahkan masyarakat untuk tidak menunjukkan tanda-tanda kebahagiaan saat Korea Utara memperingati kematian ayahnya. 

"Selama masa berkabung, kami tidak boleh minum alkohol, tertawa atau terlibat dalam kegiatan rekreasi," kata seorang warga Korea Utara dari kota perbatasan timur laut Sinuiju kepada Radio Free Asia (RFA), dikutip DailyMail, Jumat (17/12/2021).

Sumber itu menambahkan, bahwa warga Korea Utara tidak diperbolehkan berbelanja bahan makanan pada 17 Desember hingga peringatan kematian Kim Jong Il

"Di masa lalu banyak orang yang tertangkap minum atau mabuk selama masa berkabung ditangkap dan diperlakukan sebagai penjahat ideologis. Mereka dibawa pergi dan tidak pernah terlihat lagi," katanya menambahkan.

"Bahkan jika anggota keluarga Anda meninggal selama masa berkabung, Anda tidak diperbolehkan menangis dengan suara keras dan tubuh harus dibawa keluar setelah selesai. Orang-orang bahkan tidak bisa merayakan ulang tahun mereka sendiri jika sama saat masa berkabung," lanjutnya.

Dari sumber lain menyebut seorang penduduk provinsi barat daya Hwanghae Selatan mengatakan, petugas polisi diperintahkan untuk mengawasi orang-orang yang tidak terlihat kesal selama masa berkabung. 

Orang yang enggan disebut identitasnya itu mengatakan, mulai hari pertama Desember, polisi memiliki tugas khusus untuk menindak mereka yang merusak suasana berkabung. 

''Ini tugas khusus polisi selama sebulan. Saya mendengar bahwa aparat penegak hukum tidak bisa tidur sama sekali," kata warga.

Sumber itu juga menambahkan, bahwa kelompok warga dan perusahaan milik negara telah diperintahkan untuk merawat penduduk yang miskin selama masa berkabung, ketika negara itu bergulat dengan krisis pangan. 

"Ketertiban dan keamanan sosial harus dipastikan, sehingga perusahaan bertanggung jawab mengumpulkan makanan untuk diberikan kepada penduduk dan karyawan yang tidak dapat datang bekerja karena kekurangan makanan. Warga juga harus bekerja sama untuk membantu kotjebi [pengemis jalanan Korea Utara," bebernya.

Sumber itu juga menambahkan, bahwa berkabung untuk Kim Jong Il, dan ayahnya Kim Il Sung, tentunya sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari Korea Utara. 

"Saya hanya berharap bahwa masa berkabung untuk Kim Jong Il akan dipersingkat menjadi satu minggu, seperti masa berkabung untuk Kim Il Sung," lanjutnya.

"Warga mengeluh bahwa yang hidup terpaksa meratapi dua orang yang meninggal ini sampai mati," tutupnya.

Seperti diketahui, tiga generasi keluarga Kim telah memerintah Korea Utara sejak Kim Il Sung mendirikan negara itu pada tahun 1948. Ketika Kim Il Sung meninggal pada tahun 1994, putra sulungnya, Kim Jong Il, mewarisi kekuasaan. 

Kim Jong Un adalah putra ketiga dan bungsu Kim Jong Il yang mengambil alih kekuasaan setelah kematian ayahnya pada tahun 2011. Kim Jong Il meninggal karena serangan jantung pada 17 Desember 2011 di usia 69 tahun setelah memerintah negara itu selama 17 tahun dalam kediktatorannya.

Untuk memperingati sepuluh tahun kematian Kim Jong Il, berbagai provinsi di Korea Utara mengadakan pameran fotografi dan mengadakan konser di rumahnya. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait