Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Profil Bung Tomo, Pahlawan di Pertempuran Surabaya

Kintan Lestari,
24 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Profil Bung Tomo, Pahlawan di Pertempuran Surabaya
Image: Bung Tomo, tokoh BPRI tahun 1947 sedang diwawancarai para wartawan di Malang tentang sejarah Radio Pemberontak. (Dok. Perpusnas)

Jakarta - Tiga bulan setelah Indonesia meraih kemerdekaan, terjadi pertempuran dahsyat di Surabaya yang mulai tanggal 10 November 1945 dengan tokoh yang berpengaruh adalah Bung Tomo. Siapakah dia? Simak profil Bung Tomo berikut ini.

Sutomo, atau yang lebih dikenal dengan Bung Tomo, lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya, Jawa Timur. Ia merupakan anak dari pasangan Kartawan Tjiptowidjojo dan Subastita. 

Melansir Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara RI, diketahui Bung Tomo lahir dari keluarga kelas menengah. Ia pernah bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan Hogere Burgerschool (HBS).

Hanya beberapa orang Indonesia saja yang bisa masuk ke MULO dan HBS yang notabene diperuntukkan untuk anak-anak Eropa di Indonesia, dan Bung Tomo adalah salah satunya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, meski lulus secara tidak resmi, Sutomo aktif dalam organisasi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Ia juga menekuni dunia jurnalisme dengan bekerja sebagai wartawan lepas di surat kabar Harian Soeara Oemoem di Surabaya pada tahun 1937. Lalu setahun kemudian menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat serta menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres, di Surabaya pada tahun 1939.

Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo bekerja di kantor berita Domei, yang merupakan kantor berita buatan Jepang. Saat Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, ia menyebarkan berita tersebut dalam bahasa Jawa.

Pertempuran Surabaya tak lengkap tanpa peran Bung Tomo. Setelah Indonesia merdeka, suasana dalam negeri masih kacau balau. Banyak insiden yang menyiratkan pihak Belanda ingin kembali menjajah Indonesia.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait