beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URguide

Ramai 'Sleepover Date', Psikolog Ingatkan Orang Tua Tak Bablas Beri Kebebasan Anak

Nivita Saldyni,
22 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Ramai 'Sleepover Date', Psikolog Ingatkan Orang Tua Tak Bablas Beri Kebebasan Anak
Image: Ilustrasi hubungan seksual. (Freepik)

Jakarta - Istilah 'sleepover date' belakangan semakin ramai jadi perbincangan netizen Indonesia. Menanggapi hal tersebut psikolog Intan Erlita menilai ini harusnya jadi perhatian serius para orang tua, terlebih istilah ini banyak dikaitkan dengan seks bebas.

“Sekarang ini memang banyak penggunaan-penggunaan istilah yang kita sebagai orang tua harus ngeh ‘ini maksudnya apa nih istilah ini?’ karena kesannya kaya positif tapi sebenarnya kita harus memahami juga apa maksud tersebut positif juga di mata anak-anak karena kadang-kadang sudut pandang kita berbeda,” ujar Intan kepada Urbanasia, Jumat (9/9/2022).

Oleh karenanya, menurut Intan, penting bagi para orang tua tak kebablasan memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Terutama pada anak-anak yang sudah punya pasangan dan belum menikah.

“Walaupun saya nggak menyamaratakan semuanya, anak-anak muda sekarang kan banyak yang mementingkan menikmati hidup sekarang, enjoy dengan pasangannya dan lain-lain. Berlibur bareng aja buat saya itu miris banget, loh, anak-anak sekarang belum pada nikah liburan bareng keluar kota atau luar negeri terus mereka foto-foto dan posting,” ujar Intan.

“Sebenarnya ini hal yang orang tua harusnya memegang nilai-nilai karena apa pun ketika anak-anak ini dibiarkan untuk mereka kebablasan ketika punya pasangan dan belum menikah, ketika nggak jadinya ini yang akan membawa kerugian untuk kedua belah pihak, baik yang laki-laki maupun perempuan,” imbuhnya menjelaskan.

Apalagi menurut Intan, setiap orang pasti ingin memiliki pasangan terbaik untuk dinikahi. Begitu juga dengan para orang tua, pasti ingin anaknya memiliki pasangan yang baik.

“Nah bayangkan kalau semua semua anak muda sudah melakukan activity ini, yang baiknya ke mana? Jadi bukannya naif, ini menggambarkan bahwa era sekarang orang tua banyak yang kebablasan dengan kata bebas, ‘terserah anak saya mau gimana, dia yang bertanggung jawab’. Ini udah kebablasan dan bisa menghancurkan generasi anak-anak muda sekarang. Dan ini catatan penting, bukan hanya buat anak mudanya tapi juga buat para orang tuanya,” tegasnya.

Nah, terlepas dari itu, Intan sendiri menilai sebenarnya istilah ini punya dua makna yang ambigu. Sehingga harusnya diartikan tergantung siapa dan bagaimana kegiatan itu dilakukan.

Seperti misalnya postingan netizen di akun menfess @Askrlfess yang viral sejak beberapa waktu lalu. Menurutnya apabila dilihat sekilas, cuitan itu memang mengarah ke perilaku yang berkonotasi negatif, yaitu seks bebas.

“Sebenarnya artinya kan itu menginap, ya. Kalau yang dilakukan itu bersama teman-teman sesama cewek atau cowok yang itu untuk hangout, itu mungkin bisa ke ranah dalam arti sebenarnya. Tapi kalau sudah beda lawan jenis, mereka sekamar tidur bareng tanpa ikatan nikah dan di usia yang masih pada muda-muda, artinya ini memang ke konotasi negatif. Jadi nggak ada bedanya dengan seks bebas, cuma namanya aja yang berubah,” terang Intan.

Meski istilahnya memang terasa 'asing', menurut Intan, aktivitas tersebut sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat. Namun menjadi ramai diperbincangkan karena pengaruh sosial media.

“Sebetulnya kalau kita perhatikan, zaman sekarang banyak nama-nama baru tapi perilakunya sama. Nama-namanya makin ke sini makin kekinian dan makin keren. Tapi istilah ini (sleepoverdate) mirip seks bebas kalau merujuk postingan Twitter @Aksrlfess,” kata Intan.

“Bahayanya kalau kita mengangkat satu kasus atau satu perilaku, ini bisa pro dan kontra. Ada yang bilang,‘ya it's ok lah, jaman sekarang’, sehingga akhirnya sesuatu yang tidak normal menjadi normal karena dianggap biasa. Nah, ini yang bahaya buat generasi-generasi muda kita,” pungkasnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait