beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URnews

Soal Kasus Ukulele Pengamen, Ini Saran Bens Leo untuk Wali Kota Pontianak

Nivita Saldyni,
lebih dari 1 tahun yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Soal Kasus Ukulele Pengamen, Ini Saran Bens Leo untuk Wali Kota Pontianak
Image: Seorang anggota Satpol PP yang merusak dan menghancurkan alat musik ukulele pengamen dan anak jalanan yang telah dirazia. (Instagram @polpp.ptk)

Jakarta - Pengamat musik, Bens Leo menilai langkah Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono yang meminta maaf atas sikap oknum Satpol PP yang telah merusak alat musik pengamen sudah tepat.

Ia juga mengusulkan agar Wali Kota Pontianak tak hanya mengganti alat musik yang telah dirusak saja, namun juga memberikan wadah untuk para musisi jalanan ini berkreasi dan berinteraksi dengan seniman lainnya.

"Jadi kalau saya usul Wali Kota Pontianak ini hendaknya tidak sekedar mengganti alat musik itu, upayakan agar teman-teman yang dijalan itu punya tempat untuk mereka bermain secara benar. Seperti yang dilakukan almarhum Harry Roesli," kata Bens Leo saat dihubungi Urbanasia lewat telepon, Selasa (8/6/2021).

Ia menceritakan bahwa sebelumnya almarhum Harry Roesli sempat mengumpulkan para musisi jalanan di Bandung. Saat itu para musisi jalanan di Bandung diedukasi tentang bagaimana cara bermain musik yang benar oleh almarhum Harry.

"Musisi jalanan di Bandung itu direkrut oleh Harry Roesli, dikasih pembelajaran bagaimana bermain musik yang baik bahkan baca not balok dan segala macem. Pada akhirnya mereka jadi musisi. Itu dilakukan Harry Roesli waktu mas Harry masih ada dulu," ungkapnya.

Menurut Bens Leo, hal ini juga bisa dilakukan oleh Edi selaku Wali Kota Pontianak. Yaitu dengan memberikan ruang bagi musisi jalanan untuk berkreasi dan berinteraksi dengan musisi ataupun seniman lainnya.

"Nah edukasi macam ini juga bisa dilakukan oleh Wali Kota Pontianak nih sebetulnya. Ini kesempatan bagus. Kasih aja ruang, kemudian dengan protokol kesehatan di ruang itu mereka bermain secara reguler misalnya seminggu dua kali. Kemudian mereka bertemu, berinteraksi dengan sesama mereka, musisi dari Pontianak maupun luar kota, dan di tempat itulah mereka bisa menggerakkan kreativitas itu sebetulnya," saran Bens Leo.

"Itu dilakukan oleh DKI. Di Jakarta ini Gubernur memberi kesempatan untuk para pemusik jalanan bermain di Wapress itu yang dipimpin Mas Anto Baret. Dan ruangan itu gak ditutup sama (Pemprov) DKI karena tempat para seniman berinteraksi akhirnya di situ. Akhirnya tidak sekedar pemusik jalanan yang bermain di situ, tapi mereka juga seringkali musisi maupun seniman lain, seperi baca puisi, musikalisasi puisi (juga) dilakukan disitu sehingga para pemusik jalanan itu bisa berinteraksi dengan seniman lain maupun penggemarnya," jelasnya panjang lebar.

Hal ini, menurut Bens Leo bisa menjadi kesempatan yang bagus untuk Pemerintah Kota Pontianak memberikan apresiasi sekaligus mengganti alat musik para musisi jalanan itu.

"Itu bisa dilakukan oleh walikota. Kesempatan bagus ini memberikan apresiasi untuk mengganti alat musiknya itu kemudian juga kasihlah kesempatan mereka tempat untuk bermain, dengan protokol kesehatan tentu saja. Saya kira Pemda punya ruang untuk itu, pasti punya. Biar mereka ini tidak sekedar ada di jalanan tapi mereka juga punya ruang untuk ditonton oleh masyarakat luas, maupun berinteraksi antar mereka sendiri," tutupnya. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait