Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Soal Potensi Tsunami 28 Meter di Pacitan, BMKG Ungkap Faktanya!

Nivita Saldyni,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Soal Potensi Tsunami 28 Meter di Pacitan, BMKG Ungkap Faktanya!
Image: Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (tengah) bersama Menteri Sosial Tri Rismaharini (kiri) saat simulasi gempa bumi dan tsunami di Pacitan, Sabtu (11/9/2021). (Dok. BMKG)

Jakarta - Belum lama ini Kepala BMKG Dwikorita kembali mewanti-wanti masyarakat Kabupaten Pacitan, Jawa Timur akan adanya potensi tsunami setinggi 28 meter di wilayah tersebut. 

"Berdasarkan hasil penelitian, di Pantai Pacitan memiliki potensi tsunami setinggi 28 meter dengan estimasi waktu tiba sekitar 29 menit," kata Dwikorita saat simulasi gempa bumi dan tsunami bersama Kementerian Sosial (Kemensos) di Kabupaten Pacitan, Sabtu (11/9/2021) lalu.

"Adapun tinggi genangan di darat berkisar sekitar 15-16 meter dengan potensi jarak genangan mencapai 4-6 kilometer dari bibir pantai," imbuhnya.

Tak bermaksud membuat kamu takut, namun Dwikorita menegaskan bahwa hal ini sifatnya potensi, artinya bisa saja terjadi atau bahkan tidak. Kendati demikian ia tetap meminta masyarakat dan pemerintah daerah harus waspada dan sudah siap dengan skenario terburuk itu.

Lalu sebenarnya seperti apa sih potensi tsunami dan gempa megathrust di Pacitan? Yuk simak penjelasan Ahli Gempa BMKG, Daryono berikut ini:

Catatan Sejarah Gempa dan Tsunami di Pacitan

Berdasarkan catatan BMKG, gempa Jawa yang terjadi pada 4 Januari 1840 telah memicu terjadinya tsunami di Kabupaten Pacitan.

Lalu pada 20 Oktober 1859, gempa besar kembali terjadi di Pulau Jawa. Saat itu, tsunami menerjang Teluk Pacitan dan menewaskan beberapa orang awak kapal.

"Gempa besar Jawa kembali terjadi pada 11 September 1921 berkekuatan 7,6. Pusat gempa ini terletak di zona outer rise selatan Pacitan yang juga memicu tsunami dan tercatat di Cilacap, sehingga sangat mungkin tsunami juga terjadi di Pacitan," kata Daryono dalam.keterangan tertulis, Rabu (15/9/2021).

Pada 27 September 1937, Pacitan kembali diguncang gempa besar. Dampak gempa ini mencapai skala intensitas VIII-IX MMI dan menyebabkan 2.200 rumah roboh dan banyak warga yang meninggal dunia.

Pacitan Daerah Rawan Gempa dan Tsunami

Daryono mengatakan, Kabupaten Pacitan adalah daerah rawan gempa dan tsunami. Hal ini karena Pacitan berhadapan dengan zona sumber gempa megathrust.

"Hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas kegempaan sejak 2008 menunjukkan bahwa di wilayah selatan Pacitan beberapa kali terbentuk kluster seismisitas aktif, meskipun kluster pusat gempa yang terbentuk tidak diakhiri dengan terjadinya gempa besar," jelasnya.

Wilayah selatan Pacitan, kata Daryono, merupakan bagian dari zona aktif gempa di Jawa Timur yang mengalami peningkatan aktivitas kegempaan. Pada wilayah itu pula dalam beberapa tahun terakhir sering terjadi aktivitas gempa yang signifikan dan dirasakan oleh masyarakat.

Bahkan selain tsunami, BMKG juga menyebut hasil kajian terbaru menunjukkan bahwa potensi magnitudo maksimum gempa megathrust di selatan Jawa Timur adalah 8,7.

"Nilai magnitudo gempa tertarget ini oleh tim kajian BMKG dijadikan sebagai inputan pemodelan tsunami untuk wilayah Pacitan," kata Daryono.

Morfologi Pantai Pacitan Berbentuk Teluk

Daryono menjelaskan bahwa Pantai Pacitan memiliki morfologi berbentuk teluk. Nah bentuk morfologi ini ternyata lebih berbahaya saat terjadi tsunami.

"Tsunami yang masuk teluk akan terakumulasi energinya karena tsunami yang masuk ke teluk gelombangnya berkumpul dan terjebak sehingga tinggi tsunami makin meningkat. Jika morfologi pantai teluknya landai maka tsunami dapat melanda daratan hingga jauh," jelasnya.

Pentingnya Memahami Evakuasi Mandiri

Nah soal upaya mitigasi, kata Daryono, ada banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah korban saat terjadi tsunami. Salah satunya, kita harus memahami konsep evakuasi mandiri.

"Evakuasi mandiri merupakan jaminan keselamatan dari tsunami yang sudah terbukti efektif mampu menyelamatkan masyarakat di Pulau Simeulue sejak ratusan tahun lalu dalam kisah 'smong'," kata Daryono.

Untuk mendukung efektivitas proses evakuasi, selanjutnya jalur evakuasi harus sudah disiapkan. Begitu pula dengan rambu evakuasi yang sudah harus terpasang secara permanen.

"Adanya kelengkapan fasilitas ini membuat masyarakat yang melakukan evakuasi akan dengan segera mencapai titik kumpul di tempat evakuasi sementara di daerah yang aman," imbuhnya.

Jangan Abai Peringatan Dini BMKG

Daryono juga berpesan agar kita tak mengabaikan peringatan dini tsunami yang disebarluaskan oleh BMKG menggunakan multimoda diseminasi. Ia mengatakan bahwa kita harus memiliki sikap swasadar informasi gempa dan peringatan dini tsunami.

"Masyarakat juga harus memiliki respons yang cepat untuk segera melakukan evakuasi karena golden time yang cukup singkat," ungkapnya.

Sementara itu pemerintah daerah juga harus sigap dan cepat dalam merespons peringatan tsunami untuk selanjutnya mengaktivasi sirine untuk perintah evakuasi masyarakat pesisir agar segera menjauh dari pantai jika terjadi gempa berpotensi tsunami.

Namun jika satu dan lain hal dan sebagian warga terlambat mengetahui adanya peringatan tsunami, maka penting bagi masyarakat memahami cara selamat dengan melakukan evakuasi vertikal secepatnya.

"Meskipun harus memanjat pohon, memanjat bangunan tower yang tinggi, atau memanjat bangunan tinggi lainnya yang terdekat. Ini adalah beberapa cara selamat dalam menghadapi tsunami," tutupnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait