Dokter Ungkap Kondisi Penderita Diabetes yang Boleh dan Tidak Boleh Berpuasa

Jakarta - Ramadan jadi momen refleksi sekaligus ‘reset’ gaya hidup. Tapi agi penyandang diabetes (diabetesi), puasa bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Ada pertanyaan penting yang harus dijawab dulu: aman atau tidak?
Menurut Prof. dr. Hari Hendarto, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes Eka Hospital BSD, puasa bukan hal yang otomatis dilarang bagi para diabetesi.
“Jika dilakukan dengan tepat dan berdasarkan pantauan dokter, puasa justru bisa menjadi momen reset untuk tubuh,” jelasnya dalam acara Media Meet Up Eka Hospital BSD di Tangerang, Selasa (3/3/2026).
Namun, lanjut Prof Hari, tidak semua kondisi diabetes aman untuk puasa. Ada batasan yang perlu dipahami sejak awal.
Siapa yang Boleh Berpuasa?
Secara medis, mayoritas penyandang diabetes tipe 2 dengan kadar gula darah terkontrol baik diperbolehkan berpuasa. Artinya, gula darah stabil, rutin kontrol, dan tidak memiliki komplikasi berat.
“Mayoritas penyandang diabetes tipe 2 yang gula darahnya terkontrol dengan baik boleh berpuasa, tetapi tetap harus berdasarkan anjuran dan pantauan dokter,” tegas Prof Hari.
Prof Hari menambahkan, evaluaso idealnya dilakukan 2–4 minggu sebelum Ramadan untuk menyesuaikan obat dan pola makan.
Dengan persiapan yang tepat, kata dia, puasa bahkan bisa membantu meningkatkan sensitivitas insulin, mengontrol berat badan, hingga memperbaiki kadar HbA1c secara bertahap.
Siapa yang Sebaiknya Tidak Berpuasa?
Prof. dr. Hari Hendarto, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes Eka Hospital BSD. (Urbanasia)
Di sisi lain, Prof Hari menyebutkan beberapa kelompok penyandang diabetes dengan risiko sangat tinggi yang membutuhkan penilaian khusus untuk berpuasa.
Mereka adalah penyandang diabetes tipe 1 dengan gula darah tidak terkontrol, pasien dengan gagal ginjal, ibu hamil dengan diabetes, atau yang sering mengalami hipoglikemia berat, termasuk kategori yang harus ekstra hati-hati.
“Pasien dengan risiko sangat tinggi seperti diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol, gagal ginjal, atau ibu hamil memerlukan evaluasi khusus sebelum memutuskan berpuasa,” jelasnya.
Tantangan terbesar saat puasa adalah menjaga gula darah tetap stabil. Hipoglikemia, yaitu gula darah di bawah 70 mg/dL, bisa memicu pusing, gemetar, hingga pingsan dan biasanya terjadi di siang hari.
Sementara hiperglikemia, atau lonjakan gula darah yang tidak terkendali, sering muncul saat berbuka akibat asupan gula berlebihan.
“Segera batalkan puasa jika gula darah di bawah 70 mg/dL atau melonjak di atas 300 mg/dL. Nyawa dan kesehatan adalah prioritas utama dalam beribadah,” tambahnya.
Kunci Aman Puasa bagi Diabetesi
Prof. Hari menegaskan bahwa kunci utama puasa bagi penyandang diabetes adalah persiapan dan pemantauan yang disiplin. Bukan sekadar menahan lapar, tetapi memastikan tubuh tetap dalam kondisi aman sepanjang hari.
“Pemantauan gula darah mandiri tetap wajib dilakukan selama puasa. Tes dari ujung jari tidak membatalkan puasa, jadi jangan takut untuk mengecek secara rutin,” jelasnya.
Ia menyarankan pengecekan dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari, terutama saat tubuh mulai terasa lemas atau muncul gejala tidak biasa. Menurutnya, kesadaran terhadap sinyal tubuh sangat penting agar risiko hipoglikemia bisa dicegah lebih awal.
Selain itu, asupan cairan juga harus diperhatikan. Prof Hari merekomendasikan pola 2-4-2, yakni dua gelas saat berbuka, empat gelas sepanjang malam, dan dua gelas saat sahur. Pola ini membantu mencegah dehidrasi yang dapat memperburuk fungsi ginjal dan memengaruhi kestabilan gula darah.
Pemilihan menu juga menjadi bagian penting dari strategi aman berpuasa. Untuk sahur, Prof Hari menyarankan konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau gandum yang melepaskan gula secara perlahan, dipadukan dengan protein agar rasa kenyang bertahan lebih lama.
Sementara saat berbuka, ia mengingatkan agar tidak berlebihan atau bahkan 'balas dendam'.
“Hindari fenomena balas dendam saat berbuka. Mulailah dengan air putih dan kurma secukupnya, lalu makan secara bertahap agar pankreas tidak ‘kaget’,” ujarnya.
Ketika polanya benar, Prof Hari menyebut puasa bisa menjadi momen memperbaiki metabolisme. Namun, disiplin dan pendampingan medis tetap menjadi fondasi utama agar ibadah berjalan aman tanpa mengorbankan kesehatan.
