beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URstyle

Pakar IDI Ungkap Bahaya Etilen Glikol Jika Masuk ke Tubuh

Priscilla Waworuntu, 27 Oktober 2022 19.50.21
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Pakar IDI Ungkap Bahaya Etilen Glikol Jika Masuk ke Tubuh
Image: Ilustrasi obat sirup. (Freepik/user18526052)

Jakarta - Cemaran etilen glikol (EG) di ambang batas yang ditemukan dalam obat sirup menjadi perhatian. Hal ini karena ada dugaan bahwa senyawa tersebut jadi penyebab gangguan ginjal akut yang menewaskan ratusan anak di Indonesia.

Sebenarnya apa sih etilen glikol, dan mengapa cemaran ini bisa bahaya bagi tubuh? Pakar dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban membeberkan bahaya senyawa etilen glikol yang bersifat tak berbau, tak berwarna, dan berbahaya jika dikonsumsi, apalagi jika sudah terkontaminasi.

Kata Prof Zubairi, senyawa etilen glikol ini sebenarnya ada di mana-mana, tak hanya ditemukan pada obat sirup. Contohnya, pada produk pembersih dan cairan radiator di Amerika Serikat.

“Selain obat sirup, terdapat juga di produk pembersih atau pelarut. Bahkan etilen glikol itu bahan utama cairan radiator di Amerika Serikat. Berguna mencegah radiator panas berlebih atau beku, tergantung musim,” tulisnya dikutip dari akun Twitter @ProfesorZubairi, Kamis (27/10/2022). 

Dari segi rasa, etilen glikol ini memiliki rasa manis. Karena rasanya manis, ternyata banyak hewan di Amerika Serikat yang sering memakan senyawa ini, dan mereka berakhir keracunan.

Ini sudah menjadi hal umum di Amerika, binatang peliharaan seperti anjing dan kucing kerap kali ditemukan menjilat air radiator.

Bahaya Etilen Glikol Masuk ke Tubuh

Ada efek samping ketika senyawa etilen glikol ini masuk ke tubuh manusia. Tapi, itu tergantung paparannya lewat mana. Jika etilen glikol bersentuhan dengan kulit, Prof Zubairi mengatakan risikonya kecil dan tidak menyebabkan efek toksik. Begitu juga dengan paparan lewat saluran napas.

"Kasus ini (lewat saluran napas) sangat jarang terjadi. Kecuali, cairan yang mengandung etilen glikol ini dipanaskan dan dikocok, kemudian disemprotkan. Nah hal inilah yang bisa menjadikan etilen glikol menjadi racun bagi tubuh," tulisnya. 

Menurutnya, paparan etilen glikol lewat mulut adalah kasus yang paling sering terjadi. Contohnya, ya, sebagaimana yang terjadi pada anak-anak di Indonesia dan Gambia. 

"Masuk melalui mulut adalah rute paparan yang paling sering terjadi. Seperti pada kasus di Gambia dan Indonesia, yang diduga akibat obat sirup yang beredar selama ini," tulisnya.

Lantas apa sih risiko dan efek samping yang akan dirasakan tubuh jika terkena etilen glikol?

Prof Zubairi menjelaskan mengenai stadium atau gejala yang terjadi apabila seseorang terkena racun dari etilen glikol. Bagi orang yang mengonsumsi etilen glikol, pada stadium pertama, yaitu 30 menit sampai 12 jam setelah paparan, metabolit dari etilen glikol ini produksi zat yang akan membuat depresi sistem saraf pusat. Menyebabkan intoksikasi, mirip dengan hiperosmolaritas, yang bisa terjadi akibat minum alkohol maupun etanol. 

Pada stadium 2, dari 12 hingga 48 jam, metabolit etilen glikol akan menghasilkan asidosis berat. Darah akan menjadi asam dan menyebabkan hiperventilasi, napas akan menjadi sangat cepat, kemudian akan terbentuk kristal-kristal kalsium oksalat yang mengendap di otak, paru, ginjal, dan di jantung. 

“(pada) Stadium 3, dari 24 hingga 72 jam, cedera ginjal akut dapat terjadi akibat efek langsung keracunan etilen glikol. Kalau keracunannya berat, bisa sebabkan koma, tidak sadar, hingga meninggal,” tulisnya. 

Sementara itu, beberapa organ yang akan terdampak sangat parah adalah ginjal. Keracunan di ginjal merupakan konsekuensi utama akibat absorbsi dari etilen glikol, yang bikin sel-sel ginjal mati dan rusak. Ini yang disebut nekrosis tubular, yang bisa sebabkan gagal ginjal dalam waktu kurang lebih 24-28 jam.

Nah, jika kerusakan ini tidak ditangani dan diobati segera, akan berakibat pada anak tidak bisa buang air kecil. Jumlah urinenya akan menjadi sangat sedikit dan menyebabkan pasien harus segera di-hemodialisis (cuci darah), yang bukan satu dua kali, melainkan jangka panjang. 

Selain ginjal, hal yang mungkin terjadi adalah tingginya kandungan  kalium pada anak. Ketika kandungan kalium tinggi, hal ini akan membuat irama jantung jadi tidak stabil dan hal ini juga bisa menjadi faktor yang menyebabkan kematian pada anak. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait