Subkultur Pemuda di Tengah Tuntutan Keluarga

Jakarta - Pemuda lekat dengan berbagai gaya hidup, salah satunya soal subkultur. Subkultur masih banyak disalahpahami oleh kita, fenomena ini selalu dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang dari norma mayoritas masyarakat. Subkultur sendiri merupakan pilihan pola perilaku, nilai, gaya, dan bahasa yang hanya ‘berbeda’ dari masyarakat umum.
Gerakan hippie, punk, geek, gothic, emo, skinhead, hipster, KPop bahkan athleisure adalah contoh subkultur yang cukup terkenal di kalangan anak muda selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Berkonflik di Kantor Itu Sehat!
Kehadiran gerakan subkultur bisa bertransformasi dari generasi ke generasi. Sebagaimana kata Karl Manheim, sosiolog kelahiran Hungaria, setiap generasi memiliki konteks sosial yang berbeda yang akhirnya melahirkan nilai, pandangan hidup, dan keyakinan yang berbeda pula.
Subkultur begitu diminati oleh muda-mudi ibu kota masa kini. Platform digital menjadi ruang kurasi untuk anak muda yang sedang mencari referensi gaya hidup. Tren tersebut menjadi fase pencarian identitas bagi generasi muda kita. Maka menjadi penting bagi kita semua untuk memahami bagaimana para pemuda memandang dunianya sendiri.
Kegalauan, kecemasan, dan ketakutan telah menghantui perasaan generasi muda di Indonesia. Hal ini disebabkan, kecepatan informasi, masa depan yang tak menentu, dan tekanan sosial yang begitu besar setiap hari yang menggempur kepercayaan dirinya.
Subkultur kontemporer memberi ruang bagi remaja untuk menyalurkan suasana hatinya yang begitu bergejolak untuk berekspresi dan ‘bersembunyi’ dari tuntutan sosial.
Dalam komunitas subkultur, anak muda merasanya nyaman. Alasannya sederhana, anak-anak muda merasa bisa menjadi apa adanya, dan mendapatkan dukungan tanpa prasangka sosial. Sesuatu yang sulit anak muda dapatkan di kehidupan sehari-hari di tengah tuntutan keluarganya masing-masing.
Baca Juga: Kecemburuan dan Sandiwara di Media Sosial
Anak muda perlu merasa dihargai dan diapresiasi. Komunitas subkultur apapun dapat memberikan hal yang mereka inginkan, misalnya pengalaman baru dan seru.
Kita tidak bisa mengotrol setiap gerak anak muda, tetapi mencoba berempati pada pilihan mereka adalah cara yang cukup bijak. Untuk diketahui orangtua, saat memasuki usia remaja, sangat wajar jika anak muda mencoba memisahkan diri dari keluarga asalnya.
Mereka akan mencoba bereksperimen dengan subkultur yang berbeda dari budaya yang terbangun di dalam keluarganya. Pemuda akan berusaha keras menemukan hidup dan selera mereka sendiri untuk lepas dari orangtuanya.
Pada saat itu, merupakan momentum bagi anak muda menikmati identitas baru, dan mencicipi nilai-nilai berbeda dari tatanan sosial dominan. Ini sungguh hal yang sangat normal, jika anak muda tidak ‘tenggelam’ pada subkultur, mereka akan sangat kesulitan untuk menempa mental dan melepas ketergantungan pada keluarga intinya.
Menariknya, keterlibat anak muda dalam subkultur seringkali bersifat temporer dan jangka pendek. Hanya sedikit dari generasi muda yang tetap bergabung pada komunitas subkutur saat mereka telah membangun rumah tangganya.
**)Penulis merupakan Komisaris Perkumpulan Warga Muda, Inisiator Local Heroes Network, dan Chief Destructuon Officer Mindsream.
**)Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis secara pribadi, bukan pandangan Urbanasia.
