menu
user
Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Terjadi Lonjakan Kasus COVID-19, Kemenkes: Menjadi Alarm Kita

Nivita Saldyni,
9 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Terjadi Lonjakan Kasus COVID-19, Kemenkes: Menjadi Alarm Kita
Image: Ilustrasi virus. (Pixabay/BlenderTimer)

Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru saja mengumumkan kembali terjadinya tren peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia selama beberapa waktu terakhir. Padahal seperti yang kita tahu bahwa sejak awal Februari hingga Maret 2021, tren kasus COVID-19 di Indonesia sudah mulai menurun.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes, Nadia Wiweko pada konferensi pers ‘Indikasi Lonjakan Kasus COVID-19’ yang diikuti Urbanasia secara virtual pada Jumat (30/4/2021) sore.

Dalam konferensi pers tersebut, Nadia menyampaikan meski kasus konfirmasi nasional secara rata-rata masih dalam batas normal, namun ini menjadi alarm bersama untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Kita tahu, biasanya jumlah kasus kita itu antara di bawah 5.000, 4.000, atau paling sedikit 5.500. Kemarin (29/4/2021) angkanya melonjak sebanyak 5.833 kasus. Artinya ada tambahan sebanyak 600 kasus. Nah ini tentunya menjadi alarm kita,” kata Nadia di Jakarta, Jumat (30/4/2021).

“Kami ingatkan kemarin terjadi penambahan sebanyak 600 kasus yang tentunya harus menjadi kewaspadaan kita semua,” imbuh juru bicara Kemenkes itu.

Yap, pada Kamis lalu tercatat ada 1.662.868 kasus COVID-19 di Indonesia. Jumlah ini kembali meningkat pada Jumat (30/4/2021) dan mencapai 1.668.368 kasus.

Bahkan seperti yang Urbanasia sampaikan di awal, meski kasus konfirmasi positif COVID-19 di Indonesia rata-rata masih dalam batas normal, namun perlu diketahui juga bahwa telah terjadi peningkatan pada kasus kematian selama tujuh hari terakhir sebanyak 20,73 persen. Belum lagi, tren peningkatan juga terlihat pada tren rawat inap di rumah sakit yang meningkat sebesar 1,28 persen. Sementara, jumlah spesimen yang diperiksa rata-rata masih 12,25 persen.

“Jadi di sisi lain kasus konfirmasi (positif COVID-19) ini cenderung juga terjadi peningkatan walaupun tidak meningkat secara signifikan, bahkan terlihat trennya seperti menurun. Tetapi perlu diingat angka kematian dan angka rawat inap di rumah sakit itu terjadi peningkatan,” jelas Nadia.

Parahnya lagi, peta zonasi COVID-19 di Indonesia juga kembali memburuk. Jika menurut catatan Kemenkes sebelumnya hanya ada 6 kabupaten/kota di Indonesia dengan risiko tinggi, kini sudah meningkat menjadi 19 kabupaten/kota.

Peningkatan juga terlihat pada daerah risiko sedang, yang sebelumnya hanya ada 322 kabupaten/kota, kini meningkat jadi 340 kabupaten/kota. Sehingga menurut catatan Kemenkes, kata Nadia, daerah-daerah yang tadinya sudah berisiko rendah kembali meningkat menjadi ke daerah yang berisiko sedang, bahkan tinggi.

Menurut Nadia, kondisi ini salah satunya disebabkan oleh beberapa faktor. Mulai dari adanya arus mudik, peningkatan mobilitas masyarakat sejak awal April yang terjadi di kota-kota transit, daerah-daerah wisata, maupun daerah-daerah lainnya.

Belum lagi beberapa waktu lalu juga diketahui Kemenkes telah mendeteksi adanya 10 kasus varian baru (B.1.1.7) di Indonesia yang bahkan telah menjadi transmisi lokal di Kabupaten Karawang, Provinsi Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan.

Untuk itu, Nadia mengingatkan kepada kita semua untuk selalu menerapkan 5M dan terus meningkatkan kewaspadaan dimanapun dan kapanpun kita berada. Jadi Urbanreaders jangan sampai lengah ya. Tetap memakai masker dengan benar jika keluar rumah, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan di manapun kita berada, termasuk membatasi pergerakan kecuali ada keperluan mendesak.

“Mohon untuk masyarakat mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan lebih disiplin lagi. Kita tahu sudah ada potensi-potensi lonjakan kasus, sudah ada varian baru yang memungkinkan menambah beratnya lonjakan kasus, maka mari sama-sama kita terapkan protokol kesehatan kita dengan ketat,” pesannya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait