Hot News

Jakarta - Pariwisata dalam negeri yang ikut babak belur dilanda pandemi COVID-19, menjadi beban berat buat pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Semua lini bisnis pariwisata ikut terkulai, mulai dari tempat wisata, hingga toko oleh-oleh. 

Pembatasan perjalanan domestik maupun antarnegara, telah membuat bisnis pariwisata lesu, karena sepi wisatawan.

Kondisi ini menurut Kemenparekraf, juga telah membuat anjlok pendapatan negara, yang biasanya  disumbang oleh sektor pariwisata sebesar sekitar Rp 280 triliun. Melalui Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Dampak COVID-19 Kemenparekraf, Ari Juliano Gema, Kemenparekraf mengungkapkan bahwa penurunan devisa negara melorot tajam, hingga 97%.

“Sebelum pandemi COVID-19, diperkirakan sektor pariwisata di Indonesia menyumbang devisa sekitar Rp 280 triliun, yang mana hal itu berasal dari kunjungan wisatawan mancanegara sekitar 16,3 juta dan juga tercatat kunjungan dari wisatawan domestik itu sekitar 300 juta kunjungan. Namun setelah adanya pandemi COVID-19, hal ini jelas pertama kali menghantam sektor pariwisata dan juga memberikan dampak yang paling parah untuk sektor pariwisata. Sehingga, Bank Indonesia mencatat terjadi penurunan devisa diperkirakan sekitar 97%,” ungkap Ari.

1598162158-Golden-Tulip-Holand-Resort-2.jpgSumber: Golden Tulip for Urbanasia.

Lebih lanjut Ari menjelaskan bahwa Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat, sekitar 2000 pelaku usaha menutup operasionalnya selama bulan Mei. Kondisi ini telah mengakibatkan sekitar 180.000 pekerja di sektor pariwisata terdampak langsung secara ekonomi. Tentunya, hal ini tidak bisa dibiarkan terjadi terlalu lama.

Fokus Wisatawan Domestik

Di tengah himpitan ancaman virus Corona baru, pemulihan kondisi pariwisata dimulai dengan mendorong minat wisatawan domestik. Mengingat wisatawan mancanegara belum bisa datang ke Indonesia dalam waktu yang tak bisa ditentukan, maka para pelaku usaha pariwisata mesti memfokuskan perhatian pada wisatawan domestik. Potensi wisatawan domestik dinilai masih sangat baik untuk menunjang perjalanan wisata, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

1598168206-Golden-Tulip-Holland-Ressort-Batu.jpegSumber: Golden Tulip Holland Ressort for Urbanasia. 

Para pelaku usaha, utamanya yang berada di zona hijau, dapat mencermati destinasi-destinasi wisata yang layak dijual maupun yang telah siap menghadapi kenormalan baru dalam berwisata.

Daerah-daerah yang termasuk dalam zona hijau, kuning, dan oranye, dapat mulai mempertimbangkan untuk membuka kembali kegiatan ekonominya termasuk di sektor pariwisata, dengan menawarkan berbagai layanan menarik, salah satunya staycation.

“Nantinya, perlu dilakukan adanya monitoring dan evaluasi terhadap pembukaan tersebut. Termasuk, ketika nantinya hotel-hotel misalnya menyediakan fasilitas staycation. Tentu saja, pemerintah daerah di sini bisa mendukung dengan berbagai cara, termasuk salah satunya adalah memantau, mengevaluasi, memonitoring terus-menerus hotel hotel atau penginapan yang dibuka dalam rangka staycation tersebut,” ucap Ari.

Konsep Liburan Aman

Bagi pemerintah, staycation adalah salah satu alternatif kegiatan wisata yang dapat dinikmati wisatawan domestik secara aman. Mengapa aman? Konsep berlibur yang dilakukan di daerah yang terdekat dengan tempat tinggal, akan bisa dikontrol dengan lebih baik, sehingga meminimalisir adanya potensi penyebaran virus COVID-19 antarorang.

1598163584-Kolam-renang-rooftop-Mercure.jpegSumber: Staycation di Mercure Cikini/Urbanasia. 

Dengan demikian, para wisatawan yang akan melakukan staycation bisa lebih merasa aman dan nyaman, karena berada di sekitar wilayah tempat tinggalnya.

Lebih lanjut Ari mengatakan, pemerintah pusat telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kondisi ini dengan memberikan sejumlah bantuan. Dalam bentuk materiil, pemerintah memberikan bantuan sembako untuk para pelaku pariwisata yang terdampak.

1598161910-Golden-Tulip-Holland-Ressort-kamar-tidur.jpgSumber: Sumber: Golden Tullp Holland Ressort for Urbanasia. 

Selain itu, pemerintah juga memberikan stimulasi ekonomi, misalnya dalam bentuk restrukturisasi kredit dan pinjaman lunak kepada para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak. Dengan demikian, diharapkan nadi kehidupan pariwisata bisa berdenyut kembali.

Bangkitkan Ekonomi Daerah

Mengingat situasi ini tak bisa dipastikan kapan akan berakhir, program staycation yang ditawarkan oleh hotel-hotel dapat terus berlanjut. Apalagi, program ini bisa ikut membangkitkan aktivitas ekonomi di daerah.

“Saya pikir, staycation ini dampaknya akan luar biasa, karena bagaimanapun juga, setelah bulan Mei itu banyak hotel tutup, sekitar 22 ribu hotel tutup, sekarang misalnya hotel tersebut dijadikan sarana untuk staycation, maka tentu saja akan sangat membantu sekali,” ucap Ari.

1598162022-Pemandangan-dari-kamar-Golden-Tulip-Holland-Ressort.jpegSumber: Golden Tulip Holland Ressort for Urbanasia. 

“Tentu saja, program staycation ini bisa terus berlanjut dengan memperhatikan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah membuat panduan teknis dalam rangka melaksanakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Sehingga, dalam hal ini, nantinya hotel-hotel dan penginapan yang akan menjalankan program staycation, bisa merujuk pada panduan tersebut,” lanjutnya.

1598163067-protokol-Kesehatan-Golden-Tulip-Ressort.jpgSumber: Penerapan protokol kesehatan di hotel Golden Tulip Holland Ressort/Nunung Nasikhah Urbanasia. 

Diharapkan, dengan bangkitnya kembali aktivitas hotel-hotel, manfaat-manfaat ekonominya bisa dirasakan tidak hanya bagi hotel, tapi juga bagi masyarakat sekitarnya.

Komentar

Loading ..