Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Virolog ITB: Vaksin Mampu Cegah Infeksi Varian Baru Virus Corona

Shelly Lisdya,
3 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Virolog ITB: Vaksin Mampu Cegah Infeksi Varian Baru Virus Corona
Image: Ilustrasi vaksin. (Unicef)

Jakarta - Virolog Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Azzania Fibriani menyebut, jika tidak menutup kemungkinan akan terjadi penambahan jenis varian baru.

Hal tersebut berdasarkan data yang diperoleh dari perhitungan jumlah mutasi per sekuens genom, diperoleh hasil peningkatan mutasi varian baru virus corona.

Azzania mengatakan, bahwa semua orang harus mampu beradaptasi dan menghadapi jenis varian baru. Sementara untuk saat ini, obat COVID-19 adalah vaksinasi.

“Indonesia harus mampu menghadapi perubahan jenis varian virus yang terus bertambah. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan vaksinasi. Semakin banyak orang yang telah vaksin maka akan semakin banyak juga orang yang dilindungi dari infeksi SARS-COV2. Vaksin yang beredar harus terus dipantau keberjalanannya agar keefektifannya tetap sesuai dengan varian virus yang ada,” ujarnya seperti dikutip Urbanasia, Kamis (5/8/2021).

Kabar baik dari SARS-COV2 yakni perkembangan jenis varian ini lebih lambat dibandingkan virus yang lain seperti virus influenza. Oleh sebab itu, dapat memberikan waktu bagi para peneliti untuk mengembangkan obat serta vaksin yang relevan.

Vaksin SARS-COV2

Azzania mengatakan, vaksin adalah suatu antigen asing yang disuntikan kepada orang yang sehat. Pada jenis-jenis vaskin yang digunakan, antigen merupakan jenis yang berbeda. 

Antigen yang digunakan ada yang berupa inactive virus seperti pada vaksin Sinovac, ada juga yang berupa MRNA. Vaksin memiliki dua faktor perbedaan yaitu pada antigen dan adjuvant. 

Sebelum disebarluaskan, vaksin perlu melalui clinical trial, yaitu yang pertama akan diujikan kepada hewan, lalu diuji kepada manusia, dan setelah lulus akan disebarluaskan untuk digunakan.

Vaksin SARS-COV2 juga memiliki efikasi yang berbeda-beda. Efikasi bergantung pada sifat DNA orang yang disuntikan dan perkembangan virus itu sendiri. Oleh karena itu, efikasi pada berbagai negara memiliki perbedaan. 

Sifat DNA dari manusia di satu negara akan berbeda dengan negara yang lain. Hal tersebut juga berlaku dalam perkembangan virus. Di Indonesia virus SARS-COV2 akan berbeda perkembangannya dengan negara di belahan dunia yang lain. Oleh karena itu, efikasi vaksin di Indonesia juga akan berbeda dengan efikasi di negara yang lain.

Memahami Rational Drug Design

Pada saat ini, SARS-COV2 sudah memiliki treatmen yang dapat dilakukan. Berdasarkan data yang diperoleh dari mempelajari cara virus menyerang tubuh manusia, maka peneliti dapat mendesain obat yang dapat mencegah hal tersebut. 

"Proses itu dinamakan Rational Drug Design," kata Azzania.

Sebelum ditemukan teknologi tersebut, para peneliti merancang obat dengan cara mencobakannya satu per satu senyawa kepada virus lalu mendapatkan hasil. Namun sekarang sudah menggunakan komputasi bioinformatics. 

Mekanismenya berupa merancang senyawa terlebih dahulu yang dapat menghambat interaksi ACE2 dengan protein-S, lalu dicobakan secara invitro. Hal tersebut dapat memperkecil kegagalan dalam pembuatannya. Contoh obat yang berhasil dikembangkan untuk menghambat SARS-COV2 diantaranya Arbidol, Chloroquine, dan Loplinavir.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait