Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URguide

Pakar: Ada 2 Alasan Pasangan Memilih Childfree

Shelly Lisdya,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Pakar: Ada 2 Alasan Pasangan Memilih Childfree
Image: Fenomena Childfree/Getty Images

Surabaya - Belakangan ini jagad maya digencarkan dengan pernyataan selebgram hingga selebriti yang memilih 'childfree'. 

Childfree didefinisikan sebagai keputusan seseorang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Bagi masyarakat Indonesia, keputusan tersebut dinilai mengejutkan, sehingga menimbulkan pro dan kontra. 

Menanggapi fenomena tersebut, Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Bagong Suryanto menjelaskan, status sosial dan keberadaan perempuan pada masa lalu dilihat dari berapa banyak anak yang bisa dikandungnya. Namun, pandangan ini berubah seiring berjalannya waktu.

Menurutnya, keberhasilan perempuan kini tidak lagi diukur dari ranah domestik, melainkan berbasis sektor publik, seperti karier, prestasi, dan indikator baru lainnya. 

“Jadi, jika seorang wanita mengumumkan bahwa dia tidak ingin memiliki anak, itu adalah perkembangan baru. Itu sah untuk dilakukan. Hanya saja suatu saat nanti, saya yakin kerinduan untuk memiliki anak akan muncul,” jelas Bagong dikutip Urbanasia, Senin (6/9/2021). 

Pilihan memiliki anak atau tidak, menurut Bagong, adalah kebebasan pribadi. Namun, dosen kelahiran Nganjuk ini mengatakan bahwa fenomena childfree bukan hanya keputusan perempuan tetapi juga keputusan pasangan sebagai sebuah keluarga. 

Di luar negeri, childfree bukanlah fenomena baru. Hanya saja, fenomena tersebut menimbulkan banyak perdebatan yang cenderung menjadi stigma negatif di Indonesia. 

Perbedaan tanggapan tersebut, menurut Bagong, disebabkan adanya perbedaan masyarakat dalam menghormati hak. Masyarakat asing sangat menghormati hak-hak pribadi dan otonomi individu. Sementara di Indonesia, masyarakat dianggap lebih menghargai hak kelompok. 

“Saya percaya bahwa tidak memiliki anak adalah sikap sejumlah kecil perempuan. Sebagai hak pribadi, mereka boleh memilih itu, dan masyarakat tidak perlu menganggapnya serius,” katanya. 

Terkait alasan pasangan memilih childfree, dosen mata kuliah Sosiologi Anak ini mengatakan ada dua kemungkinan utama. Alasan pertama adalah usia. Bisa jadi, seseorang memilih untuk tidak memiliki anak karena masih muda. 

Di tingkat SD, lanjutnya, perempuan juga bisa menunda punya anak dengan menikah di usia dewasa. Sedangkan alasan kedua adalah keinginan untuk mengejar karier. 

Dalam perjalanan menuju kesuksesan karier, dijelaskan Bagong, bahwa banyak wanita yang menganggap kehadiran seorang anak merupakan kendala tersendiri. 

“Kalau dikatakan alasan bebas anak karena masih banyak anak-anak yang terlantar atau tidak mau menambah populasi bumi, saya kira itu rasionalisasi dan bukan alasan sebenarnya,” pungkasnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait