URstyle

Awas, Terlalu Irit Bisa Jadi Gangguan Kepribadian

Priscilla Waworuntu, Minggu, 16 Oktober 2022 14.03 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Awas, Terlalu Irit Bisa Jadi Gangguan Kepribadian
Image: Ilustrasi Menabung. (Freepik/storyset)

Jakarta - Menghemat uang mungkin adalah salah satu nasihat yang selalu kita dengar dari banyak orang, baik dari orang dewasa hingga orang yang memiliki pengalaman lebih banyak tentang uang.

Menghemat uang dengan cara menabung bukan hal buruk. Buktinya, hal ini terus menerus ditanam sejak kecil agar saat beranjak dewasa kita bisa memiliki uang yang banyak. 

Kendati demikian, ternyata tak sedikit orang berhemat dengan cara yang ekstrem. Mereka rela tidak mengeluarkan uang untuk hidup layak dan sengaja menabung uangnya untuk simpanan masa depan.

American Psychiatric Association memasukan kegiatan berhemat ekstrem sebagai gejala gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (OCPD). Kondisi ini terjadi ketika seseorang 'mengadopsi gaya belanja yang pelit baik untuk diri mereka sendiri maupun orang lain'.

Hak-hal yang termasuk penghematan ekstrem contohnya selalu memilih harga termurah, padahal kamu mampu beli yang lebih mahal dengan kualitas terbaik. Contoh lain, menghemat uang dengan segala cara tidak peduli berapa banyak waktu yang harus kamu korbankan. 

Lantas bagaimana membedakan menabung untuk investasi masa depan dan kegiatan menabung dan berhemat tanpa tujuan? Ketika seseorang berhemat, sebenarnya yang harus dilakukan hanya menyederhanakan pengeluaran yang tidak diperlukan, beli saja hal-hal penting yang dibutuhkan. Biasanya berhemat dilakukan ketika seseorang butuh dana untuk membeli sesuatu, contohnya beli rumah. 

Berhemat beda dengan berhemat ekstrem atau irit, mereka menabung tapi dengan cara yang tidak sehat. Contohnya, memangkas dana kebutuhan secara besar-besaran. Mereka tidak peduli dengan kebutuhan sehari-hari, dan hidup bak orang kesusahan demi menabung.

Terus, gimana biar kamu nggak terjebak melakukan penghematan ekstrem? Ada banyak cara, salah satunya memahami betul berapa pengeluaran wajib harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Contoh pengeluaran wajib adalah bayar sewa rumah, tagihan, makanan, transportasi, penitipan anak, dan apa pun yang memang kamu butuhkan untuk bertahan hidup.

Setelah kamu menjumlahkannya, kamu bisa mulai menghitung kira-kira berapa nominal uang yang bisa kamu simpan untuk dana pensiun, investasi, dan dana darurat. Jika sudah dijumlahkan, sisa uang yang ada bisa kamu belanjakan secara bebas. Dana bebas ini bisa kamu gunakan untuk apapun, mulai dari liburan, membeli barang yang kamu inginkan, hingga rencana yang mungkin akan kamu lakukan 10 tahun ke depan. 

“Banyak orang memiliki penghasilan tambahan, tetapi mereka memiliki mentalitas kelangkaan sehingga mereka tidak akan mampu bertahan,” kata .Bill Perkins, manajer hedge fund dan penulis Die With Zero.

“Jadi, mereka tetap menggunakan autopilot, mengira saya akan terus bekerja dan menabung lebih banyak untuk berjaga-jaga. Tapi sekarang Anda menjadi agen asuransi," imbuhnya.

Selain itu, orang-orang terkadang juga melakukan pembayaran secara autodebit, walau memang hal ini akan memudahkan seseorang dalam melunasi hutang dan cicilan. Namun pada kenyataannya hal ini juga akan membuat seseorang kesulitan untuk menabung, karena mereka tidak bisa mendahulukan pembayaran mana yang harus ia bayar.

Maka dari itu, penting sekali untuk merencanakan seluruh pengeluaran dan pemasukanmu agar keuangan tetap stabil. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait