Jakarta -  Di awal 2021, publik kembali dihebohkan dengan berita penangkapan kasus narkoba yang menyeret nama suami dari penyanyi tanah air,  Nindy Ayunda.

Askara Parasady Harsono (APH) ditangkap pihak kepolisian di kediamannya  di daerah Jakarta Selatan. Kabar penangkapan suami Nindy ini juga telah dikonfirmasi oleh Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Ady Wibowo dalam keterangan resminya.

"Benar (suami Nindy), beberapa waktu lalu kami amankan," ujar Ady, Senin (11/1/2021).

Berdasarkan tes urine, polisi menyebut APH positif menggunakan amfetamin dan metamfetamin.

“Dalam pemeriksaan bahwa yang bersangkutan urinenya awal kami tes positif amphetamin, beberapa butir,” kata Ady Wibowo di Polres Metro Jakarta Barat, Senin (11/1/2021).

Lalu, apa sebenarnya kandungan amfetamin dan metamfetamin? Berikut ulasannya!

Di Indonesia, penggunaan amfetamin dan metamfetamin sangat dilarang. Hal ini dikarenakan kedua obat tersebut dapat menyebabkan penggunanya menjadi ketagihan, hingga menimbulkan kerugian. 

Badan Nasional Narkotika (BNN) juga menetapkan kedua jenis obat tersebut masuk ke dalam golongan obat terlarang. Meski dapat mengobati penyakit tertentu, tetapi kepemilikan obat ini diatur oleh undang-undang.  

Amfetamin merupakan jenis obat-obatan stimulan yang terdiri dari struktur senyawa kimia 1-fenil-2-aminopropane. Senyawa kimia ini bisa digunakan sebagai obat stimulan penderita depresi.

Pengguna kedua obat tersebut akan mengalami rasa kantuk di siang hari, bahkan bisa tiba-tiba tertidur tanpa mengenal waktu dan tempat loh, guys.

Tak hanya itu, amfetamin dan metamfetamin juga digunakan untuk mengobati gangguan hiperaktif pada anak atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). 

ADHD merupakan gangguan mental yang menyebabkan anak menjadi sulit fokus serta memiliki perilaku impulsive dan hiperaktif. 

Cara kerja amfetamin di dalam tubuh yakni dengan mengubah kadar zat alami tertentu yang mengontrol impuls di dalam otak. Ini akan membuat gejala dari kondisi yang diderita menjadi berkurang.

Sementara metamfetamin bekerja dengan cara meningkatkan jumlah zat kimia otak seperti dopamin, serotonin dan norepinefrin.

Kondisi tersebut akan berdampak pada peningkatan aktivitas otak dan sistem peredaran darah, sehingga denyut jantung serta tekanan darah jadi meningkat. 

Penggunaan amfetamin dan metamfetamin sangat membutuhkan pengawasan dari dokter. 

Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi penyalahgunaan serta tidak menimbulkan kerugian yang serius bagi pemakainya dan lingkungan sosial. 

Itulah yang mendasari kepemlikan dan penyalahgunaan kedua jenis obat ini dapat dijerat dengan undang-undang narkotika.

Komentar
paper plane