Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Kronologis Runtuhnya Pertahanan Afghanistan ke Tangan Taliban

Nivita Saldyni,
2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Kronologis Runtuhnya Pertahanan Afghanistan ke Tangan Taliban
Image: Seorang anggota Taliban berjaga di Kota Ghazni, Afghanistan pada Sabtu (14/8/2021). (Antara/REUTERS)

Jakarta – Afghanistan tengah jadi sorotan usai Taliban berhasil masuk dan menduduki ibu kota mereka, Kabul, pada Minggu (15/8/2021). Kondisi Afghanistan semakin mencekam saat Taliban berhasil menduduki Kantor Kepresidenan.

Hal ini pun menimbulkan kepanikan warga setempat. Bahkan sudah banyak warga asing maupun sipil yang berusaha melarikan diri melalui bandara untuk menyelamatkan diri.

Runtuhnya pertahanan Afghanistan ke tangan Taliban menandai 20 tahun kembalinya kelompok tersebut setelah digulingkan invasi pasukan koalisi pimpinan AS pada 2001.

Serangan Taliban mulai dilakukan dengan cepat setelah Amerika Serikat (AS) dan NATO mulai menarik pasukannya dari Afghanistan. Bahkan hanya dalam hitungan hari, Taliban berhasil meruntuhkan pertahanan pemerintah Afghanistan.

Berdasarkan informasi yang Urbanasia kumpulkan dari berbagai sumber, berikut kronologis runtuhnya pertahanan Afghanistan di tangan Taliban.

Taliban Menyerang Usai AS Menarik Pasukannya dari Afghanistan

Upaya Taliban kembali merebut kembali kekuasaan Afghanistan semakin gencar usai Presiden AS, Joe Biden, mengumumkan pihaknya akan menarik pasukan AS dari Afghanistan secara berkala hingga September 2021 yang menjadi akhir dari 20 tahun kehadiran militer asing di negara tersebut. Dalam pernyataannya itu, Biden mengatakan bahwa pihaknya tak bisa lagi memperpanjang dan memperluas lagi kehadiran militernya di Afghanistan.

“Setelah berkonsultasi dengan sekutu dan mitra kami, dengan para pemimpin militer dan personel intelijen kami, dengan diplomat kami dan pakar pembangunan kami, dengan Kongres dan Wakil Presiden, serta dengan Tuan Ghani, dan banyak lainnya di seluruh dunia, saya telah menyimpulkan bahwa sudah waktunya untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika. Sudah waktunya bagi pasukan Amerika untuk pulang,” kata Biden seperti dalam keterangan resmi yang ditulis oleh Gedung Putih pada 14 April 2021 lalu.

Pasukan militer AS pun mulai ditarik secara bertahap sejak Mei. Namun sejak saat itu pula sedikit demi sedikit distrik di Afghanistan mulai jatuh ke tangan Taliban. Taliban pun dengan cepat merebut lebih dari setengah pusat distrik Afghanistan.

1629035492-WhatsApp-Image-2021-08-15-at-8.51.04-PM.jpegSumber: Suasana di Kandahar, Afghanistan, Sabtu (14/8/2021). Sumber: ANTARA FOTO/Taliban Handout/via REUTERS/HP/sa.

Saat itu intelijen AS telah memprediksi dan memberikan peringatan bahwa pemerintah Afghanistan bisa jatuh dalam hitungan enam bulan setelah AS menarik pasukannya. Namun ternyata saat itu juga Taliban langsung tancap gas dan meningkatkan serangannya.

Taliban pun mengawali serangannya dengan menyasar daerah-daerah pedesaan dan pinggiran. Setelah itu, mereka menyasar wilayah perbatasan penting. Hingga kemudian pada awal Agustus, Taliban mengklaim telah berhasil merebut tiga kota di wilayah utara Afghanistan. Jumlah itu pun terus bertambah, Taliban pun berhasil meruntuhkan pertahanan di delapan ibu kota provinsi pada Rabu (11/8/2021) lalu.

Kecepatan Taliban ini kemudian membuat intelijen AS merevisi prediksi mereka. Dalam prediksi terbarunya, Taliban diperkirakan mampu merebut Kabul dalam waktu 90 hari atau tiga bulan.

Namun ternyata prediksi itu kembali meleset. Hanya dalam waktu 10 hari, Taliban berhasil merebut puluhan ibu kota provinsi, termasuk Kabul pada Minggu (15/8/2021) lalu.

Taliban Duduki Kabul dan Istana Kepresidenan Afghanistan

Kabul jatuh ke tangan Taliban usai kelompok tersebut berhasil merebut 23 ibu kota provinsi Afghanistan pada 15 Agustus lalu. Masuknya Taliban ke Kabul ini tentu mengejutkan karena terjadi jauh lebih cepat dibanding prediksi intelijen AS.

Masuknya Taliban ke Kabul pun menimbulkan kepanikan semakin meningkat. Banyak warga sipil maupun asing yang bergegas meninggalkan negara tersebut. Bahkan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani menyatakan diri telah meninggalkan negara tersebut pada Minggu (15/8/2021) saat Taliban mengepung Kabul.

“Untuk menghindari pertumpahan darah, saya pikir lebih baik pergi,” tulis Ghani lewat sebuah postingan di halaman Facebook, seperti dikutip dari Antara.

“Taliban meraih kemenangan dengan pedang dan senjata, dan mereka bertanggung jawab untuk melindungi kehormatan, kemakmuran, dan harga diri rekan-rekan kita,” pungkasnya.

Tak lama kemudian, juru bicara Taliban, Mohammad Naeem dalam wawancaranya bersama stasiun TV Al Jazeera mendeklarasikan bahwa perang di Afghanistan telah berakhir. Ia mengaku bahwa pihaknya tak ingin lagi hidup terisolasi.

“Kami telah mencapai apa yang kami cari, yaitu kebebasan negara kami dan kemerdekaan rakyat kami,” ungkapnya.

Naeem pun mengatakan aturan kekuasaan dan bentuk pemerintahan akan segera dirampungkan. Ia pun mengatakan pihaknya siap berdialog dengan seluruh tokoh Afghanistan. Ia pun menyatakan bahwa pihaknya menjamin perlindungan bagi siapapun yang memerlukan. Naeem juga menambahkan bahwa kelompoknya ingin berdamai dengan semua orang.

Untuk Urbanreaders ketahui, Taliban adalah kelompok fundamentalis Islam yang didominasi oleh etnis Pashtun. Mengutip dari Britannica, kelompok ini muncul pada pertengahan 1990-an setelah Soviet menarik diri dari Afghanistan. Kelompok ini kemudian merebut Kabul dan memegang kendali atas Afghanistan pada 1996 hingga 2001. Taliban berhasil didepak dari kekuasaannya ketika invasi pimpinan AS pada 2001.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait